ragam

Perayaan Lebaran Unik di Maluku, Perang Sapu Lidi

Kamis, 27 April 2023 | 16:00 WIB
Perayaan Lebaran Unik di Maluku, Perang Sapu Lidi

Kabar BUMN - Kemeriahan menyambut lebaran tak hanya terasa di Pulau Jawa, tapi juga terasa hingga ke Maluku. Tak sekadar melestarikan budaya, masyarakat Maluku juga dikenal sangat menjunjung keberagaman. Berikut beberapa tradisi menyambut lebaran di Maluku.

Maluku termasuk salah satu daerah di Indonesia yang terkenal akan keberagamannya. Hal ini bisa kita lihat dari kemeriahan menyambut lebaran di Maluku. Menjunjung tinggi toleransi, masyarakat Maluku yang terdiri dari berbagai keyakinan saling menghormati dan berpartisipasi merayakan tradisi keagamaan, termasuk tradisi menyambut lebaran di Maluku.

Sama seperti daerah lainnya di Indonesia, Maluku punya tradisi unik menyambut lebaran. Bahkan, banyak tradisi di Maluku yang juga menjadi daya tarik wisata, sehingga bisa mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Nah, berikut adalah beberapa tradisi menyambut lebaran di Maluku yang menarik dan unik untuk disaksikan langsung:

Pukul Manyapu

Tradisi menyambut lebaran unik di Maluku pertama adalah Pukul Manyapu, yakni tradisi berupa atraksi peperangan saling menyabet tubuh lawan dengan sapu lidi dari daun enau. Semua peserta yang ikut tradisi ini akan bertelanjang dada, atau hanya menggunakan ikat kepala dan celana. 

Para peserta yang terdiri dari 10 orang/tim akan saling menyabet lawan dengan penuh suka cita. Setelah badan berlumuran darah dan terluka, peserta akan diobati dengan minyak nyualaing, yang sudah disiapkan tetua adat. Minyak ini dipercaya dapat menghilangkan luka sabetan.

Tradisi ini dilakukan untuk mengingatkan perjuangan rakyat Maluku melawan penjajahan Portugis dan VOC. Selain itu, tradisi Pukul Manyapu juga ditujukkan untuk mengenang pembangunan masjid pertama di Negeri Mamala (Maluku) pada tanggal 7 syawal, abad ke-17. 

Majarah

Salah satu tradisi unik menyambut lebaran di Maluku adalah Majarah, atau tradisi 7 Syawal. Warga Desa Hitu Lama, Leihitu, Maluku Tengah biasanya akan berjalan kaki untuk ziarah ke makam. Mulai dari makam tokoh adat, raja pertama di Negeri Hitu Lama, hingga makam keluarga. 

Proses ziarah ini harus dilakukan tepat pada lebaran hari ke-7, tidak boleh kurang dan lebih. Apa pun halangan dan tantangannya di hari tersebut, tradisi ini harus tetap dijalankan. Karena aturan ini sudah melekat secara turun-temurun, dengan tujuan untuk menghormati para leluhur sekaligus mendoakan. 

Tapur

Tradisi lebaran di Maluku selanjutnya adalah Tapur. Tradisi ini kerap dilakukan di Desa Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Tapur adalah sebutan untuk nampan raksasa yang terbuat dari pelepah daun sagu atau bambu. Dalam satu tapur, terdapat puluhan hingga ratusan makanan khas Maluku. 

Tapur biasanya disiapkan pemuka adat dan masyarakat yang berkecukupan. Tapur akan diarak keliling kampung dengan iringan tarian hadrat dan tifa rebana. Kemudian, tapur akan dibawa ke pelataran masjid untuk diperebutkan warga dari semua kalangan. 

Halaman:

Terkini