Pada festival musim semi, Dew Eostre dilambangkan dengan telur dan kelinci.
Tradisi ini kemudian diadaptasi pada perayaan Paskah.
Tradisi telur paskah Paskah pertama kali muncul sekitar abad pertengahan di kawasan Anglo Saxon.
3. Menu setelah puasa Paskah
Sebelum Paskah, ada masa prapaskah dengan kewajiban pantang dan puasa selama 40 hari.
Pada masa tersebut telur merupakan salah satu makanan yang pantang dikonsumsi.
Setelah Paskah, baru boleh lagi. Karena itu, saat Paskah, gereja membagi-bagikan telur untuk jemaat.
Terlebih lagi, di masa itu, telur termasuk mahal dan tidak semua orang mampu membelinya.
Baca Juga: 4 Kota di Dunia yang Populasi Hewannya Lebih Banyak dari Manusia, Dominasi Penuh!
4. Mewarnai telur
Pada perayaan paskah telur yang sudah direbus diberi warna dan dihias secantik mungkin.
Tradisi ini dipercaya sudah sejak awal perkembangan agama Kristen di Mesopotamia (sekarang Iran).
Dulunya telur diwarnai merah, menyerupai darah. Ini perlambang darah yang dikorbankan Yesus di kayu salib.
Baca Juga: Es Krim dan Beragam Olahannya di Dunia, Semuanya Dingin Menyegarkan
Gereja kemudian melanjutkan tradisi ini dengan mewarnai telur yang akan bagi-bagikan sebagai hadiah.
Tidak hanya warna merah, gereja juga membubui dengan warna-warna lainnya.
Kini telur tidak terbatas diwarnai saja tapi juga dihias dengan aneka dekorasi secantik mungkin.