Dua elemen sakral turut menyemarakkan perayaan: Api Dharma yang dibawa dari Mrapen dan Air Berkah dari Umbul Jumprit.
Keduanya menjadi lambang penerangan dan kesucian, serta digunakan dalam prosesi penyucian untuk membawa berkah dan kedamaian.
Baca Juga: Meresapi Makna Waisak: Tradisi Sakral dari Grobogan hingga Jambi
4. Kirab Waisak: Napak Tilas Spiritualitas Umat
Puncak semangat kolektif terlihat dalam Kirab Waisak, di mana ribuan umat berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.
Diiringi doa, kidung, dan dupa yang mengepul, kirab ini menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, dan transformasi spiritual.
5. Pelepasan Lampion: Doa-doa Terbang ke Langit Malam
Sebagai penutup yang memukau, malam Waisak ditandai dengan pelepasan ribuan lampion ke langit.
Lampion-lampion bercahaya itu membawa harapan dan doa untuk dunia yang lebih damai, terang, dan penuh cinta kasih.
Momen ini menjadi salah satu atraksi yang paling dinanti, tidak hanya oleh umat Buddha tetapi juga masyarakat luas yang ingin merasakan keindahan spiritual Borobudur.
Perayaan Waisak bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ajakan bagi semua untuk menapaki jalan welas asih, ketenangan, dan harmoni di tengah dunia yang terus bergerak.***