Kabar BUMN - Banyak orang mengenal RS Mata Dr Yap sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi ternyata di balik itu tersimpan kisah panjang yang menarik.
Gedung rumah sakit ini juga difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai koleksi berharga tentang sejarah pengobatan mata di Indonesia.
Kunjungan ke museum ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga memberi pengalaman berbeda ketika berada di Kota Gudeg.
Baca Juga: BULOG Raih Rekor MURI lewat Gelaran GPM Serentak di 4.337 Titik Seluruh Indonesia
Koleksi Unik yang Dipamerkan
Menginjakkan kaki ke dalam museum, kamu bisa menemukan berbagai peralatan medis tempo dulu.
Ada kursi roda kayu milik Dr Yap Hong Tjoen dari tahun 1930-an, sepeda ontel peninggalan Dr Yap Kie Tiong, hingga andong yang dahulu dipakai untuk mengangkut obat-obatan.
Baca Juga: Tingkatkan Keamanan dan Kenyamanan Wisatawan di The Nusa Dua, ITDC Gelar Pelatihan K9
Tidak kalah menarik, tersedia pula alat elektromagnetik yang berfungsi mengeluarkan serpihan logam dari mata, serta sinotopsor untuk mendeteksi tingkat kejulingan.
Semua koleksi ini merekam perjalanan medis di masa lalu, terutama ketika pengobatan mata mulai berkembang pesat.
Jejak Sejarah Rumah Sakit
Baca Juga: The Wheel Bali: Cara Baru Melihat Pulau Dewata dari 360 Derajat, Kapan Momen Terbaik untuk Naik?
Awalnya, rumah sakit ini berdiri dengan nama Prinses Juliana Gasthuis voor Ongglijders pada awal abad ke-20.
Seiring berjalannya waktu, klinik kecil yang dibuka Dr Yap di Gondolayu tidak mampu menampung jumlah pasien yang terus meningkat, sehingga dipindahkan ke lokasi yang kini dikenal sebagai RS Mata Dr Yap.
Saat masa pendudukan Jepang tahun 1942, nama rumah sakit pun diubah menjadi RS Mata Dr Yap. Setelah sang pendiri pindah ke Belanda pada 1949, pengelolaan rumah sakit dilanjutkan oleh putranya, Dr Yap Kie Tiong.
Baca Juga: Aplikasi Penerjemah Bahasa yang Bisa Digunakan Saat Traveling ke Jepang
Bangunan Penuh Nilai Sejarah
Daya tarik lain dari museum ini adalah arsitektur bangunannya yang masih terjaga. Dulunya, ruangan yang kini menjadi museum merupakan bangsal perawatan pasien.