Kabar BUMN - Di balik hiruk-pikuk wisata modern Yogyakarta, tersimpan keindahan klasik yang menawan, yakni Candi Sambisari.
Candi ini bukan sekadar bangunan batu kuno, melainkan bukti peradaban Hindu abad ke-9 yang masih tegak hingga kini.
Berada di wilayah Kalasan, Sleman, destinasi ini menawarkan pengalaman berwisata yang unik karena letaknya yang tak biasa, di bawah permukaan tanah.
Baca Juga: Danau Tondano: Keindahan Alam Minahasa yang Terselip Legenda Cinta dan Kutukan Alam
Candi yang Muncul dari Perut Bumi
Keunikan Candi Sambisari terletak pada posisinya yang sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah.
Dari kejauhan, kamu tak akan langsung melihat bangunan megah ini karena area sekitarnya berupa tanah yang lebih tinggi.
Baca Juga: Bank Mandiri Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi Ekspor di TEI 2025
Kondisi tersebut diperkirakan terjadi akibat letusan besar Gunung Merapi pada tahun 1006 yang menimbun wilayah sekitarnya dengan pasir dan batu.
Setelah dilakukan penggalian dan pemugaran, kini area candi telah ditata rapi seperti taman kerajaan, lengkap dengan tangga di keempat sisinya.
Arsitektur yang Penuh Makna
Baca Juga: Krakatau Steel Perkuat Sinergi Hilirisasi untuk Dorong Kemandirian Industri Baja Nasional
Candi Sambisari dibangun pada masa pemerintahan Rakai Garung dari Wangsa Syailendra dan menganut aliran Syiwa.
Kompleksnya terdiri dari satu candi utama dan tiga candi pendamping, dikelilingi oleh delapan lingga patok di setiap penjuru arah mata angin.
Saat kamu menaiki tangga menuju candi utama, terdapat ornamen singa dalam mulut makara, simbol pelindung suci dalam mitologi Hindu. Di dalam bilik utama, terdapat lingga dan yoni yang menjadi lambang pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
Baca Juga: Camilan Bengkulu, Kekhasannya di Rasa, Tekstur, dan Bentuknya yang Unik