ragam

Mengenal Fenomena Ketindihan, Bisakah Dijelaskan Secara Medis?

Rabu, 13 Mei 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi - Mengenal fenomena ketindihan atau sleep paralysis secara medis, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara mengurangi risikonya. (Freepik)

Akibatnya, kesadaran sudah kembali tetapi tubuh masih berada dalam keadaan “terkunci” sementara. Inilah yang kemudian memicu sensasi ketindihan.

Baca Juga: PHR Zona 4 Tingkatkan Sinergi dengan Pemkab Muara Enim dan Musi Rawas untuk Ketahanan Energi Nasional

Gejala yang Sering Dirasakan

Orang yang mengalami ketindihan biasanya merasakan beberapa gejala tertentu. Kondisi ini dapat berbeda pada setiap individu, tetapi ada beberapa tanda yang cukup umum terjadi.

Beberapa gejala sleep paralysis antara lain:

  • Sulit menggerakkan tubuh atau berbicara
  • Merasa dada berat atau sesak
  • Sensasi ada seseorang di sekitar
  • Takut atau panik berlebihan
  • Halusinasi visual maupun suara
  • Jantung berdebar lebih cepat

Baca Juga: Ruwatan Akbar 2026 Jadi Daya Tarik Wisata Tradisi di Taman Mini Indonesia Indah, Catat Tanggalnya

Halusinasi inilah yang sering membuat ketindihan dianggap berhubungan dengan hal supranatural. Padahal, kondisi tersebut dapat dipicu oleh otak yang belum sepenuhnya keluar dari fase mimpi.

Faktor yang Memicu Ketindihan

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sleep paralysis. Salah satunya adalah pola tidur yang tidak teratur atau kurang tidur.

Baca Juga: Modus Card Trapping Masih Marak, Simak Tips Agar Kartu ATM Tidak Dibobol

Selain itu, stres berlebihan, kelelahan, gangguan kecemasan, dan posisi tidur telentang juga sering dikaitkan dengan munculnya ketindihan.

Pada sebagian orang, kondisi ini juga bisa lebih sering terjadi ketika kualitas tidurnya buruk dalam jangka waktu lama.

Apakah Ketindihan Berbahaya?

Baca Juga: Kumpulan Ucapan Idul Adha 2026 untuk Keluarga, Sahabat, dan Media Sosial

Secara umum, ketindihan bukan kondisi yang berbahaya dan biasanya akan hilang dengan sendirinya. Meski terasa menakutkan, sleep paralysis umumnya tidak menyebabkan gangguan kesehatan serius.

Namun jika terjadi terlalu sering hingga mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari, kondisi ini sebaiknya dikonsultasikan ke tenaga medis.

Dokter dapat membantu mencari tahu apakah ada gangguan tidur lain yang mendasarinya.

Baca Juga: Ingin Pengalaman Kerja di BUMN? PT SUCOFINDO Buka Program Magang 2026

Halaman:

Tags

Terkini