Melalui program ini, Perusahaan mangajak kaum perempuan memanfaatkan pekarangan rumah untuk lahan bercocok tanam sayuran.
Baca Juga: Dukung Upaya Kemanusiaan, Aksi Donor Darah Elnusa Kumpulkan 546 Kantong Darah Sepanjang 2023
Selain untuk dikonsumsi sendiri, hasil panen juga bisa dipasarkan baik secara langsung maupun dalam bentuk produk turunan, sehingga dapat membantu perekonomian keluarga.
Saat ini, Bumi Kartini beranggotakan 879 orang perempuan, di mana 161 di antaranya merupakan kelompok rentan lansia.
Baca Juga: Lengkapi Kebutuhan Alutsista TNI AU, Dirgantara Indonesia Kirimkan NC212i Dengan Propeller Baru
Sayuran yang telah dihasilkan dari program ini dengan memanfaatkan total 9.324 Ha, meliputi kembang kol, kubis, terong, markisa, kangkung, wortel, kacang panjang, buncis, pakcoy, selada, sawi, pare yang rata-rata produksinya mencapai 1.405 Kg per bulan.
Beberapa di antaranya dikembangkan menjadi produk turunan olahan, seperti selai terong, kripik pare, kripik terong, dan sirup markisa.
Bumi Kartini mampu mengatasi persoalan sosial sekaligus lingkungan karena dikembangkan berdasarkan pada konsensus empowering problem to solve the problem.
Limbah urin sapi yang selama ini langsung dibuang ke aliran anak Sungai Lusi berpotensi memicu terjadinya pencemaran dan menurunya kualitas air.
Di lain sisi, urin sapi juga mengandung gas metana yang dapat menyebabkan efek rumah kaca. Dengan diolah menjadi biourin, ancaman terhadap lingkungan dapat dihindari, bahkan terbukti berhasil mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sementara program MAS SOLTAN (Sistem Reklamasi Tambang yang Berdampak Sosial dan Berkelanjutan) yang dijalankan oleh SBI Pabrik Narogong, Jawa Barat, menggabungkan potensi-potensi di lahan reklamasi dengan program kemitraan bersama masyarakat di sekitar area operasional.
Baca Juga: Majukan UMKM Lewat Event UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023, BRI Dapat Apresiasi Presiden Joko Widodo
Program yang berbasis pada pertanian terpadu (integrated farming) ini telah melahirkan 7 kelompok binaan (3 kelompok tani, 1 kelompok ternak, 1 kelompok penyulingan dan 2 kelompok olahan atsiri) dari 4 desa sekitar operasional perusahaan untuk mempelajari sistem agroforestry, penggemukan sapi, pengolahan produk turunan atsiri, pemanfaatan lahan kritis dengan budidaya sorghum serta pemanfaatan mikoriza pada media tanaman di lahan reklamasi.***
Artikel Terkait
Pertahankan Dominasi Pasar, SIG Perkuat Inovasi Produk & Layanan, Digitalisasi dan Operasional Berkelanjutan
Budi Waseso Diangkat sebagai Komisaris Utama SIG dalam RUPSLB 2023
SIG Tindak Lanjuti Rekomendasi BPK untuk Perkuat Akuntabilitas dan Tata Kelola
Piawai dalam Berinovasi, Direktur Utama SIG Raih The Best CEO pada Ajang Top BUMN Awards 2023
Faktor yang Bawa SIG Raih Penghargaan Marketeer of the Year 2023