Sofyan mengatakan, kerja sama penyaluran bantuan pangan tersebut diharapkan dapat memenuhi asupan gizi bagi keluarga yang mempunyai balita rawan stunting serta bagi ibu hamil.
Baca Juga: PT Rajawali Nusindo Terima Apresiasi Penghargaan di Bidang Kesehatan dari Pemkab Serang
Berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting pada balita di Provinsi NTT sebesar 37,9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa 37 hingga 38 dari 100 balita mengalami stunting.
Angka ini menjadikan NTT sebagai provinsi kedua dengan prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia setelah Provinsi Papua Pegunungan.
Sedangkan target prevalensi stunting pada balita di Indonesia 2023 yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 adalah sebesar 16 persen.
Baca Juga: Serah Terima Pengelolaan Proyek Pengembangan RS UNHAS Dihadiri Direktur Utama PT Rajawali Nusindo
Prevalensi stunting pada balita memiliki ambang batas 20 persen. Wilayah dengan prevalensi lebih dari 20 persen dikatakan tinggi atau sangat tinggi.
Sementara itu, dalam RPJMD Provinsi NTT 2018-2023, target prevalensi stunting pada balita sebesar 10-12 persen. Dengan demikian NTT termasuk dalam wilayah dengan prevalensi stunting pada balita yang sangat tinggi dan sangat jauh dari target nasional ataupun daerah.***
Artikel Terkait
ID FOOD Gandeng BTN Jalin Kerja Sama Penyaluran Bantuan Penanganan Stunting
ID FOOD Terapkan Smart Farming untuk Tingkatkan Produktivitas Pangan Nasional
ID FOOD Perkokoh Hubungan dengan Petani Tebu Rakyat, Pacu Swasembada Gula Nasional
ID FOOD Bersinergi dengan Pemda untuk Percepat Distribusi 4,3 Juta Paket Pangan Cegah Stunting
ID FOOD Perkuat Logistik Pangan: Optimalkan Distribusi Gula dan Garam untuk Stabilitas Harga
Pemprov Banten dan ID FOOD Group Salurkan Bantuan Pangan untuk Tekan Angka Stunting