Kapasitas produksi etanol nasional saat ini mencapai sekitar 180 ribu kiloliter per tahun, sedangkan kebutuhan etanol 5 persen (E5) saat ini mencapai 1,9 juta kiloliter per tahun dan akan berlipat ganda apabila diterapkan E10.
Dalam jangka pendek sampai dengan panjang, Pertamina NRE masih akan menargetkan pembangunan pabrik bioetanol baru dengan harapan akan memperkecil gap antara suplai dan kebutuhan nasional.
Tanah di Indonesia memiliki potensi untuk ditanami dengan beberapa jenis tanaman energi yang berpotensi menjadi bahan baku bioetanol.
Dengan mendiversifikasi jenis bahan baku, maka diharapkan tidak akan mengganggu kebutuhan tebu nasional untuk pangan.
Pertamina saat ini tengah melakukan studi untuk mengembangkan beberapa bahan baku bioetanol selain dari tebu, antara lain sorgum (sorghum), nipah (nypa fruticans), dan tandan kosong kelapa sawit (empty fruit bunch).
Pertamina NRE berkomitmen kuat untuk mengembangkan energi bersih sebagai bentuk dukungan terhadap transisi energi untuk mencapai aspirasi pemerintah net zero emission selambat-lambatnya tahun 2060.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pengembangan bioetanol sehingga bisa menjadi salah satu solusi energi terbarukan.
"Bioetanol diproduksi dari bahan-bahan organik yang menawarkan potensi besar untuk masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Fadjar.***
Artikel Terkait
Presiden Jokowi Serahkan Trophy kepada Jorge Martin, Peraih Podium Utama Pertamina Grand Prix of Indonesia
Lebih dari 120 Ribu Penonton Padati Pertamina Mandalika International Circuit, InJourney Sukses Gelar MotoGP untuk Ketiga Kalinya
CAEXPO 2024, Pertamina Sukses Antar UMKM Binaannya Raih Kesepakatan Transaksi Lebih 2 Miliar
Presiden Jokowi Berikan Apresiasi InJourney yang Libatkan 3.000 SDM Lokal Pada Pertamina Grand Prix of Indonesia 2024
PDC CUP 2024: Momen Bersejarah Turnamen Tenis Meja Se-Pertamina Raya