Dengan menganalisis sampel batuan, kata tia, para ahli dapat menentukan solusi yang tepat.
Pjs VP Asset Development, Mochamad Taufan mencontohkan bahwa saat terjadi pembentukan kerak (scale) pada pompa dan peralatan bawah permukaan di suatu sumur, endapan kerak yang terbentuk dapat menghambat aliran fluida.
Hal ini tidak hanya mengurangi efisiensi produksi, tetapi juga berpotensi menyebabkan kegagalan di pompa bawah permukaan dan meningkatkan biaya operasi.
“Ketika ada masalah, kami kembali ke pangkal. Tim menganalisa data fluida terproduksi untuk memahami kecenderungan terbentuknya endapan kerak di suatu sumur.
"Fluida yang terproduksi tersebut tentu sangat erat kaitannya dengan jenis batuan dan sedimen yang ada di lapangan tersebut. Sehingga dengan memahami karakteristik batuan, akan sangat membantu dalam mencari solusi atas persoalan tersebut,” kata Taufan.
Hasil analisa menelurkan insiatif-inisiatif baru untuk mengatasi masalah scaling.
Salah satunya proses uji coba metode baru pada tiga sumur produksi baru-baru ini menunjukkan terjadinya pengurangan pembentukan scale secara signifikan.
Baca Juga: Ponot, si Raksasa Alam: Air Terjun Tertinggi di Indonesia yang Menyemburkan Kabut Tipis
Hasilnya, PHR berhasil mengembalikan potensi produksi yang hilang atau Lost Production Opportunity (LPO) hingga 2.000 barel minyak dari tiga sumur.
“Perlambatan pembentukan scale tentu saja sekaligus mengurangi biaya perawatan sumur. Well Service sumur yang sebelumnya dilakukan sekali dalam dua bulan, kini menjadi sekali dalam empat bulan atau lebih.
"Uji coba ini berpotensi memangkas biaya perawatan dan mengembalikan potensi produksi hingga 2,4 miliar rupiah dari tiga sumur uji coba,” ujar Taufan.
Baca Juga: Tanggap Bencana, Pegadaian Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi
Selain sebagai sumber data dalam menjawab tantangan di lapangan, lab Geologi PHR kerap menjadi rujukan tim peneliti dalam merencanakan pengembangan area baru.
“Kami tengah melakukan analisa lapisan batuan dan sedimen yang pernah diambil dari lapangan Duri. Mulai sejak tahun 1950-an hingga yang terakhir,” ujar Sedimentologist Lemigas Agus Priyantoro.
Artikel Terkait
Siaga Terpadu, PHR Gelar Latihan Gabungan Atasi Situasi Darurat di Pelabuhan Dumai
PHR Raih Penghargaan Internasional Berkat Inovasi Teknologi Migas i-TERM
PHR Raih Indonesia Best Business Transformation Award 2024 dari Majalah SWA
Tonggak Baru Pengembangan Migas Non-Konvensional di WK Rokan oleh PHR
Capaian Mengesankan PHR, Dua Sumur ‘Big Hitter’ Ditemukan