Implementasi CCS membutuhkan ekosistem solid yang mencakup identifikasi sumber CO2, transportasi, hingga penyimpanan di cekungan migas.
Tantangan utamanya adalah tingginya biaya teknologi ini. "Kami sedang mengembangkan kapasitas domestik untuk teknologi ini," jelas Oki.
Baca Juga: 5 Air Terjun di Bogor untuk Wisata di Akhir Pekan Ini
Pertamina telah memulai berbagai inisiatif, seperti pengembangan CCS Asri Basin di Jawa Bagian Utara, serta proyek CCUS di Lapangan Jatibarang dan Sukowati.
Ke depan, beberapa potensi lainnya juga telah masuk dalam rencana strategis perusahaan.
Oki menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi hub regional CCS di Asia Pasifik.
Baca Juga: Dukung Visi Indonesia Emas 2045, PEPC JTB Perkenalkan Industri Hulu Migas Pada Gen Z
Negara-negara maju seperti Singapura, Korea, dan Jepang tidak memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang cukup, sehingga Indonesia dapat menjadi solusi utama.
Namun, proyek CCS ini memerlukan dukungan modal besar, infrastruktur canggih, dan regulasi yang solid.
Pemerintah telah mengeluarkan Perpres 2024 untuk mendukung pelaksanaan CCS dan perdagangan karbon.
Baca Juga: Dengan Program Unggulan Disabilitas Tanpa Batas, PNM Boyong Tiga Penghargaan di BBMA 2024
"Kami juga membutuhkan insentif fiskal untuk membuat proyek ini layak secara ekonomi. Kerja sama internasional sangat penting," tutup Oki.***
Artikel Terkait
Pertamina Jadikan Biofuel sebagai Salah Satu Kunci Akselerasi Transisi Energi
Pertamina Eco RunFest 2024: Event Lari Karbon Netral Pertama di Indonesia, Siap Digelar dalam Waktu Dekat!
Pertamina Sukses Tutup Pertamina Goes to Campus 2024 di Universitas Mulawarman: Upaya Peningkatan Ketahanan Energi
Perkuat Kerja Sama Global, Pertamina Bertekad Kurangi Emisi Metana di Indonesia
Hari Pertama CSE Asia 2024, UMKM Binaan Pertamina Raih Transaksi Lebih dari Rp1,5 Miliar