The 3th Pertamina Energy Dialog 2024: Panas Bumi Berperan Strategis dalam Upaya Mewujudkan Swasembada Energi

Photo Author
Dwi NM, Kabar BUMN
- Kamis, 12 Desember 2024 | 17:00 WIB
Pertamina Energy Institute menggelar The 3th Pertamina Energy Dialog 2024 di kampus Universitas Pertamina (11/12). (Dok. Pertamina)
Pertamina Energy Institute menggelar The 3th Pertamina Energy Dialog 2024 di kampus Universitas Pertamina (11/12). (Dok. Pertamina)

Panas bumi, sebagai satu-satunya energi terbarukan dengan karakteristik baseload, memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan agenda ini.

Baca Juga: 67 Tahun Pertamina: Energi untuk Indonesia yang Lebih Baik

PGE menargetkan penambahan kapasitas terpasang sebesar 1 GW dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,5 GW pada tahun 2035.

Namun, tantangan terbesar adalah menarik minat investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk itu, PGE berkomitmen mengambil langkah strategis, seperti berkolaborasi dengan berbagai pihak, menurunkan biaya produksi, dan mendiversifikasi aliran pendapatan baru guna meningkatkan daya tarik investasi.

Baca Juga: Pertamina Raih Pengakuan atas Komitmen Iklim di Investing on Climate Editor’s Choice Award 2024

Prof. Ari Kuncoro, dari Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa diperlukan dukungan insentif fiskal dari pemerintah yang tidak terlalu membebani keuangan negara.

Hal ini juga dapat berbagi risiko sehingga diperlukan pendampingan melalui pasar modal atau obligasi yang bernuansa lingkungan (green bond) dengan mengajak investor yang concern terhadap isu lingkungan yang pada akhirnya dapat berdampak kepada masyarakat.

Dr. Adhitya Nugraha dari Pertamina Energy Institute menyampaikan hasil kajian benchmark-nya bahwa Indonesia termasuk dalam klaster Demand Surge.

Baca Juga: HUT ke-67 Pertamina, Momentum Berikan Santunan untuk Puluhan Ribu Anak Yatim

Klaster ini mempunyai karakteristik permintaan listrik tertinggi dan peluang yang besar dalam energi terbarukan.

Namun Indonesia mempunyai karakteristik di bawah rata-rata dalam hal investasi transisi energi dan paling rendah dalam hal harga listrik.

Sehingga Indonesia perlu meningkatkan iklim investasi dan menyelesaikan berbagai tantangan sektor panas bumi, antara lain pada aspek harga pembelian listrik, skema kesepakatan, pendanaan, regulasi, dan pengembangan potensi pasar.

Baca Juga: Menghadapi Nataru, Pertamina Siapkan Kebutuhan Energi Nasional dengan Optimal

Hadir juga pada forum tersebut, Muchsin Qadir dari World Bank, Shruti Raghuram dari Rystad Energy, Nareswari Sumarsono dari PT Pertamina Power Indonesia, dan Ir. Pri Utami, M.Sc.,Ph.D., IPM Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi FT UGM dalam diskusi pada sesi terkait peluang, tantangan dan inovasi pengembangan panas bumi di Indonesia.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dwi NM

Tags

Artikel Terkait

Terkini