Kolaborasi Strategis BioNet dan Bio Farma untuk Perluas Akses Vaksin TdaP di Asia Tenggara

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:20 WIB
BioNet dan Bio Farma menandatangani MoU strategis untuk pengembangan vaksin TdaP di ASEAN, memperkuat akses kesehatan dan kesiapsiagaan pandemi. (Dok. Bio Farma)
BioNet dan Bio Farma menandatangani MoU strategis untuk pengembangan vaksin TdaP di ASEAN, memperkuat akses kesehatan dan kesiapsiagaan pandemi. (Dok. Bio Farma)

Kabar BUMN — BioNet, grup bioteknologi vaksin asal Prancis–Thailand, bersama PT Bio Farma (Persero), produsen vaksin milik negara Indonesia, resmi menjalin kemitraan strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan dan mendistribusikan vaksin kombinasi TdaP (tetanus, difteri, dan pertusis aselular rekombinan) di kawasan ASEAN.

Kesepakatan ini ditandatangani bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia, menandakan komitmen bersama untuk mempercepat ketersediaan vaksin inovatif di Asia Tenggara.

Baca Juga: Wisata Alam di Majalengka, Kota Tanpa Hiruk-pikuk yang Diidamkan untuk Masa Pensiun dan Slow Living

Melalui kerja sama ini, teknologi pertusis rekombinan milik BioNet akan disinergikan dengan kemampuan produksi massal dan cakupan layanan kesehatan Bio Farma untuk menjawab kebutuhan imunisasi penting di kawasan tersebut.

“Kesepakatan ini mencerminkan visi bersama untuk memperluas akses terhadap vaksin generasi baru di tempat yang paling membutuhkannya,” ujar Philippe Guillot-Chêne, CEO BioNet Europe.

“Dengan menyatukan kekuatan kami, BioNet dan Bio Farma berkontribusi membangun ekosistem kesehatan regional yang tangguh dan memperkuat kapasitas ASEAN dalam menghadapi penyakit menular saat ini dan di masa depan.”

Baca Juga: Hasil RUPST PGN Bagikan Dividen Rp4,42 Triliun, 80% dari Laba Bersih 2024

MoU ini merangkum kerja sama dalam pengembangan klinis, harmonisasi regulasi, serta strategi akses pasar.

Bio Farma akan bertanggung jawab atas uji klinis dan proses perizinan di Indonesia, sementara BioNet akan melaksanakan kegiatan serupa di negara-negara ASEAN lainnya.

Tujuan dari kemitraan ini adalah mempercepat akses terhadap vaksin inovatif dengan memangkas jeda waktu masuk pasar dari 10–15 tahun menjadi kurang dari lima tahun.

Baca Juga: Produksi Minyak PEP Adera Field Melesat 222% Berkat Temuan Sumur BNG-067 di North West Benuang

“Melalui kolaborasi ini, kami memperkuat komitmen Indonesia dalam mewujudkan kemandirian vaksin regional dan inovasi bioteknologi,” ujar Yuliana Indriati, Direktur Pengembangan Usaha Bio Farma.

“Dengan teknologi pertusis rekombinan dari BioNet dan kapasitas produksi kami, kami berharap vaksin TdaP ini dapat segera tersedia bagi remaja, ibu hamil, dan lansia di Indonesia, serta masuk dalam program imunisasi nasional.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini