Perhitungan emisi karbon mengacu pada referensi lembaga internasional seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), International Civil Aviation Organization (ICAO), serta International Air Transport Association (IATA), dan terverifikasi secara ilmiah oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Hal ini menjadikan Greenomina kredibel secara ilmiah dan aplikatif untuk publik maupun korporasi.
Fadjar berharap Greenomina dapat menjadi platform komersial berkelanjutan.
Aplikasi ini membantu perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis carbon-neutral sekaligus berkontribusi menciptakan lingkungan lebih sehat.
Pada akhirnya, Greenomina bukan hanya memperkuat komitmen Pertamina terhadap target net zero emission 2060 yang dicanangkan Pemerintah Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial yang bermanfaat bagi konsumen, komunitas, dan generasi muda Indonesia.***
Artikel Terkait
KWT Berseri Dapat Pelatihan Jamur Tiram, CSR Pertamina EP Sangatta Dorong Ketahanan Pangan Lokal
Pertamina Hulu Mahakam Raih Predikat Emas ISRA 2025 Berkat Program Konservasi Pesut Mahakam
Menapak Karier Lewat Beasiswa, Iqbal Kini Jadi Perwira di Pertamina Hulu Energi
Komisaris Utama dan Direktur Operasi Pertamina Drilling Tegaskan Pentingnya Keselamatan Kerja dalam MWT di Rig Sembakung Field
Pertamina Ambil Peran, Sediakan LPG untuk Koperasi Merah Putih