Namun, industri ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan produktivitas petani dan korporasi, hingga tekanan regulasi keberlanjutan dari Uni Eropa.
"Jadi selain kunci meningkatkan produktivitas petani, dan penguatan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) juga harus berjalan berkesinambungan,” tegas Jatmiko.
Baca Juga: Spot Trekking di Jogja Ini Cocok Buat Pemula, Bonus View Merapi
PalmCo sendiri menunjukkan komitmen ESG melalui pengembangan energi baru terbarukan.
Hingga kini, perusahaan mengoperasikan 7 unit PLTBg dan 4 unit co-firing biogas dengan total kapasitas 9,3 MW. Selain itu, tengah diproses pengembangan 20 unit Compressed Biomethane Gas (CBG) dan 1 fasilitas Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Menutup paparannya, Jatmiko kembali menekankan bahwa investasi strategis, kebijakan tepat, inovasi, serta kolaborasi erat antara petani dan industri merupakan fondasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi Indonesia.
Baca Juga: BULOG Gelar GPM Serentak, Salurkan 43 Ribu Ton Beras SPHP untuk Peringati HUT ke-80 RI
"Sekali lagi kami sampaikan, kolaborasi adalah kunci menuju solusi berkelanjutan. Kesempatan ini kami harap menjadi awal yang baik untuk bersama mewujudkannya,” pungkasnya. ***
Artikel Terkait
Dirut PalmCo Ingin Produksi CPO Naik, Regional III Diberi Tantangan Baru
PTPN IV PalmCo-Aiken Jepang Targetkan PTBg Cofiring Commisioning Akhir Tahun
Puluhan Petani Sawit Sambangi PalmCo di Jakarta saat Momen Kemerdekaan, Bahas Apa?
PalmCo Warnai Perhelatan Pacu Jalur Kuansing, Tradisi Riau yang Mendunia
PTPN IV PalmCo Raih Penghargaan Atas Inovasi Peremajaan Sawit Rakyat di Riau