Inovasi Pupuk Organik dari Limbah Biosulfur Antarkan PEP Donggi Matindok Field Raih Grand Prize dalam Ajang Inovasi Dunia di China

Photo Author
Dwi NM, Kabar BUMN
- Senin, 1 September 2025 | 11:00 WIB
Pertamina EP Donggi Matindok meraih penghargaan tertinggi (Grand Prize) di ajang 11th International Exhibition of Inventions (IEI). (Dok. PEP DMF)
Pertamina EP Donggi Matindok meraih penghargaan tertinggi (Grand Prize) di ajang 11th International Exhibition of Inventions (IEI). (Dok. PEP DMF)

Kabar BUMN - Komitmen PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) dalam mengolah produk samping operasi menjadi pupuk organik ramah lingkungan untuk mendukung pertanian berkelanjutan di Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, membuahkan prestasi membanggakan.

Perusahaan berhasil meraih penghargaan tertinggi (Grand Prize) dalam ajang 11th International Exhibition of Inventions (IEI) yang digelar di Guangzhou, China, pada 24 Agustus 2025.

Inovasi bertajuk Biotechnological Advances in Organic Fertilizers Utilizing Biosulfur Side Products for Sustainable Agriculture ini membawa nama Pertamina dan Indonesia di panggung internasional.

Baca Juga: Komisaris Pertamina Mochamad Iriawan Tinjau Terminal BBM Rewulu di Hari Libur, Pastikan Ketahanan Energi Nasional Terjaga

“PEP Donggi Matindok Field menjalankan tugas mendukung ketersediaan energi, khususnya sebagai pendukung sentra industri di Sulawesi Tengah.

"Dalam memenuhi tugas tersebut, kami berupaya mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.

"Melalui inovasi ini, kami bertanggung jawab terhadap produk samping operasi yang kami hasilkan dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian di desa ring satu.

Baca Juga: Kuliner Khas Lasem, Jawa Tengah, Kombinasi Unik Kuliner Rembang dan Tiongkok

"Hal ini menjadi kunci dari kesuksesan tim dalam membawa inovasi ini mendapatkan penghargaan tertinggi di ajang IEI 2025,” ujar Andry, GM Zona 13 PEP DMF di sela-sela ajang internasional tersebut.

Tim inovasi ini terdiri dari Andry (General Manager Zona 13), Aristo Joeristanto (Sr. Manager Prod & Project), Ridwan Kiay Demak (Field Manager Donggi Matindok), Reza Pahlepy (Ast. Manager Production), Firmansyahrullah (RAM Ast. Manager), serta anggota tim Muchammad Sibro Mulis, Arief Partayudha, Nixon Poltak Frederic, Kus Junianto, dan Rani Utari Ayuningtyas.

Kabupaten Banggai dikenal memiliki potensi pertanian yang besar namun belum tergarap optimal.

Baca Juga: HKI Pacu Pembangunan Jalan Tol Palembang-Betung Seksi 3, Akses Pangkalan Balai–Betung Bisa Ditempuh 10 Menit

Desa Kayowa, dengan 70% wilayah berupa lahan pertanian, menghadapi masalah serius seperti mahalnya pupuk kimia, distribusi yang tidak merata, dan ketergantungan tinggi pada pupuk kimia yang berisiko terhadap kesuburan tanah serta lingkungan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PEP DMF menginisiasi program Integrated Agriculture Bioferdom, yang memanfaatkan limbah biosulfur slurry dari kegiatan produksi untuk diolah menjadi pupuk organik ramah lingkungan dengan teknologi bioteknologi modern.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dwi NM

Tags

Artikel Terkait

Terkini