Dalam proses tersebut, Subholding PT Kilang Pertamina International (KPI) berperan dalam menyediakan fasilitas co-processing untuk mengubah minyak jelantah menjadi SAF, PT Pertamina Patra Niaga bertanggung jawab atas distribusi bahan bakar, dan PT Pelita Air Service, maskapai milik Pertamina, menjadi pengguna utamanya.
Baca Juga: Ragam Kuliner Palembang yang Memanfaatkan Daging Ikan Air Tawar atau Ikan Sungai
“Dengan demikian, kami memiliki rantai ekosistem lengkap.
"Mulai dari pengumpulan minyak jelantah hingga produksi SAF, lalu penggunaannya dalam penerbangan.
"Suplai UCO berpotensi meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari kawasan, Eropa, dan Amerika Serikat,” paparnya.
Untuk memperluas kapasitas produksi, Pertamina terus mengoptimalkan dua kilang utama — Kilang Cilacap dan Kilang Plaju.
Saat ini, Kilang Cilacap telah mampu memproduksi sekitar 238 ribu kiloliter SAF per tahun melalui teknologi co-processing dengan campuran 2,4% UCO, dan kapasitasnya akan ditingkatkan melalui pembangunan fasilitas tambahan.
Agung menegaskan, keberhasilan pengembangan SAF menjadi bukti nyata bahwa ekonomi sirkular dapat diimplementasikan secara efektif di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Besok! Tiket DAMRI Diskon 20% untuk Seluruh Rute AKAP, Simak Promonya
“Dampaknya, SAF dapat mengurangi hingga 84 persen emisi karbon dari penerbangan internasional.
"Kami berharap dapat terus bekerja sama untuk mengembangkan SAF bagi Indonesia dan dunia,” pungkas Agung.***
Artikel Terkait
Pertamina Dorong Desa Lebak Gede Jadi Simbol Ketahanan Energi dan Pangan Berkelanjutan
Terminal Tanjung Sekong, Andalan Pertamina yang Topang 40% Kebutuhan LPG Nasional
Pertamina Mantapkan Ketahanan Energi Nasional Lewat Inovasi Digital
IDTC Pertamina Drilling: Pusat Lahirnya Tenaga Ahli Pengeboran Bertaraf Global dari Indramayu
Pertamina dan GIZ Perkuat Kolaborasi Transisi Energi dan Pemberdayaan Komunitas