Kabar BUMN - Masalah klasik yang dialami para petani kecil di berbagai wilayah operasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) beberapa tahun silam — mulai dari lahan kritis, biaya produksi yang terus melonjak, hingga ketergantungan pasokan pangan — pernah menempatkan ketahanan pangan pada kondisi yang rapuh.
Namun kegelisahan tersebut justru memantik lahirnya sebuah gerakan yang perlahan berubah menjadi secercah harapan.
Pada Rabu (19/11/2025), harapan itu berdiri di panggung nasional dan meraih penghormatan tertinggi.
Baca Juga: KAI Hadirkan Promo Spesial Nataru, Diskon 30% untuk Seluruh Tiket Kereta Ekonomi Komersial
Pada ajang Indonesia’s SDGs Action Awards 2025, yang menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan Sustainable Development Annual Conference (SAC) 2025 oleh Kementerian PPN/Bappenas, PHE berhasil meraih peringkat Terbaik II kategori Badan Usaha Besar.
Penghargaan tersebut langsung diserahkan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dan diterima oleh Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng.
Penghargaan ini menegaskan perjalanan panjang program PHE Satu Pangan – Sinergi Aksi Tangguh untuk Pangan, yang berlandaskan komitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan dan kini telah memberikan dampak nyata.
Program tersebut mendorong peningkatan signifikan dalam produksi pangan, yakni lebih dari 1.200 ton beras, 22 ton jagung, 9,8 ton cabai per tahun, serta lebih dari 1.800 ton telur unggas dan komoditas lain seperti ikan, daging unggas, serta daging ruminansia termasuk kambing dan sapi.
Upaya ini memperkukuh kemandirian pangan lokal dan bagi banyak desa terbukti mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Tak hanya mendorong produktivitas, program ini juga menghadirkan efisiensi besar melalui pemanfaatan teknologi inovatif, seperti water drip irrigation, rain harvesting, atmospheric harvesting, hingga sistem irigasi otomatis berbasis Android yang mampu menurunkan penggunaan air hingga 40–100%, mengurangi penggunaan pupuk kimia lebih dari 400 kg per musim tanam, serta menghemat biaya kelompok masyarakat hingga Rp350 juta per tahun.
Baca Juga: 30 dari 100 UMKM Lolos Seleksi Pertapreneur Aggregator 2025, Siap Berkompetisi Menuju Top 10
Teknologi pendukung lainnya — Soil Nutrient Sensor, Dry House berbahan briket jerami, serta alat penyiang Cakra Baskara — turut meningkatkan efektivitas budidaya di lahan-lahan kritis.
Dari sisi pemberdayaan sosial, program PHE Satu Pangan telah memberikan manfaat langsung bagi lebih dari 1.400 penerima manfaat, termasuk 90 kepala keluarga prasejahtera yang kini merasakan peningkatan kapasitas dan pendapatan.
Artikel Terkait
PHE WMO Tambah 120 Ton Hexa Reef, Perkuat Pesisir Bangkalan dan Dorong Wisata Tlangoh
Performa Operasional PHE Melesat Stabil hingga Triwulan III Tahun 2025
Didukung PHE Ogan Komering, Festival Sekaa Nguda Makarti Jaya Hidupkan Kembali Tradisi Bali di Tanah Transmigrasi
PHE ONWJ Ajak Mahasiswa UBP Karawang Kenali Dunia Industri Hulu Migas Lebih Dekat
Pengelolaan Lapangan Mature: PHE Perkuat Strategi Modern untuk Ketahanan Energi Nasional