Selain itu, tercatat 16 pesawat diarahkan untuk mendarat di bandara alternatif.
Baca Juga: Januari 2026 Bisa Masuk Museum Nasional Indonesia Rp0, Ini Jadwal dan Ketentuannya
“Tujuan divert antara lain ke Palembang sebanyak dua pesawat, kemudian ke Semarang sebanyak tiga pesawat, Halim Perdanakusuma (3 pesawat), Tanjung Pandan (1 pesawat), Pangkalpinang (1 pesawat), Solo (2 pesawat), Yogyakarta International Airport/YIA (4 pesawat), dan Jambi (1 pesawat),” jelas Hermana.
Ia menegaskan, prosedur go-around, holding, dan divert merupakan langkah baku dalam keselamatan penerbangan yang diterapkan ketika kondisi cuaca atau faktor operasional tidak memenuhi standar keselamatan.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pilot.
Baca Juga: Weekend Panjang Datang, DAMRI Tawarkan Diskon Spesial Tiket Antar Kota via DAMRI Apps
“Sementara petugas ATC memberikan informasi cuaca, kondisi lalu lintas, serta clearance sebagai rekomendasi guna memastikan separasi pesawat tetap aman,” tegasnya.
Hermana menambahkan, seluruh prosedur tersebut telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta regulasi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), termasuk Annex 2, Annex 6, dan CASR yang berlaku di Indonesia.
Seluruh regulasi tersebut menegaskan bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama, dengan Pilot in Command sebagai pemegang kewenangan tertinggi dalam pengambilan keputusan keselamatan.
Baca Juga: Adrenalin Enam Jam Nonstop, Agya Endurance Race Digelar di Sirkuit Mandalika
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, AirNav Indonesia juga melakukan manajemen lalu lintas penerbangan secara intensif, antara lain dengan menerapkan ground delay di sejumlah bandara keberangkatan guna mengurangi kepadatan di wilayah udara Jakarta.
Selain itu, dilakukan pengaturan interval keberangkatan, serta koordinasi cuaca berkelanjutan dengan BMKG dan pengelola bandara alternatif terkait kesiapan apron dan kapasitas penerimaan penerbangan divert.
“Sepanjang waktu, AirNav Indonesia terus memantau perkembangan cuaca dan lalu lintas penerbangan secara real-time.
Baca Juga: Pulihkan Akses Pascabencana, Hutama Karya Kebut Perbaikan Tol Binjai–Langsa hingga 20 Januari 2026
"Ini adalah komitmen kami untuk memastikan pelayanan navigasi penerbangan yang diberikan dapat optimal, selamat, aman, dan andal, sekaligus meminimalisasi dampak operasional bagi maskapai dan pengguna jasa,” pungkas Hermana.***
Artikel Terkait
AirNav Indonesia Siap Kawal Lonjakan Penerbangan di Musim Libur Nataru 2025/2026
Hari Guru Nasional, AirNav Indonesia Beri Apresiasi untuk Guru di Wilayah 3T
AirNav Indonesia Kawal Kelancaran Penerbangan di Sumatra Pasca Banjir
Runway Run 2025 AirNav Indonesia di Makassar Pecah, Ribuan Pelari Meriahkan Hari Penerbangan Sipil Internasional
AirNav Indonesia Tegaskan Komitmen Integritas Melalui Momentum HAKORDIA 2025