Baca Juga: UMKM Binaan Pertamina Bersinar di INACRAFT 2026, Raih Transaksi Miliaran Rupiah
“Sering kali kendalanya bukan hanya teknis di kebun, tetapi juga administrasi dan manajemen. Kami dampingi dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Model kemitraan yang dijalankan PalmCo pun mendapat respons positif dari Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono. Ia menilai pola pendampingan tersebut memberi kepastian bagi petani plasma di tengah dinamika harga dan produktivitas.
“Yang dibutuhkan petani adalah kepastian dan pendampingan. Transparansi perusahaan serta dukungan teknis yang berkelanjutan membuat petani tidak merasa berjalan sendiri,” kata Setiyono.
Baca Juga: Ramadhan Kitchen Take Over, Kolaborasi The Manohara Hotel Yogyakarta dan Yassalam Arabian Resto
Dari sisi keberlanjutan, PalmCo mendorong petani mitra mengikuti sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Hingga 2025, program sertifikasi telah mencakup 11.909 hektare lahan milik 5.954 kepala keluarga, sebagai upaya memastikan praktik budidaya ramah lingkungan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Pangsius, Ketua KUD Sawit Trija di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, menyampaikan bahwa program PSR dan distribusi bibit unggul membawa perubahan signifikan bagi petani.
Baca Juga: Liburan Seru ke Jember Mini Zoo: Cek Harga Tiket dan Promo Spesial Imlek 2026
“Dulu banyak petani menanam seadanya, yang penting cepat berbuah. Sekarang kami lebih paham soal kualitas benih dan teknik budidaya. Tanpa bibit yang jelas dan bimbingan teknis, sulit bagi petani swadaya untuk mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Di Provinsi Riau, tiga koperasi binaan PTPN IV Regional III yang mengelola lebih dari 1.800 hektare kebun sawit telah meraih sertifikasi internasional RSPO. Ketiga koperasi tersebut adalah Makarti Jaya, Dayo Mukti, dan Kusuma Bakti.
Makarti Jaya menjadi koperasi pertama yang memperoleh sertifikasi RSPO pada medio 2025, dengan 265 petani anggota dan pengelolaan lahan seluas 731 hektare. Koperasi ini juga tercatat sebagai yang pertama meraih sertifikasi global di lingkungan Holding Perkebunan Nusantara III (Persero).
Baca Juga: Investasi SDM Berkelanjutan, PT TIMAH Tbk Beri Dukungan Finansial dan Hunian bagi Mahasiswa
Sementara itu, Dayo Mukti mendapatkan sertifikasi pada Agustus 2025, disusul Kusuma Bakti Mandiri pada November di tahun yang sama. Kedua koperasi yang berada di Kabupaten Rokan Hulu tersebut memiliki total 501 petani anggota dan mengelola 1.077 hektare perkebunan sawit.
Dengan strategi terpadu mulai dari penyediaan bibit bersertifikat, penguatan koperasi, hingga akses sertifikasi global, PTPN IV PalmCo optimistis produktivitas sawit rakyat akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
CPO Berkelanjutan Beri Nilai Tambah, PTPN IV PalmCo Kantongi USD 10,5 Juta
PTPN I Groundbreaking Industri Ayam Terpadu untuk Program Mandiri Protein di Setiap Provinsi
Petenis Belia PTPN IV PalmCo Awali 2026 dengan Gelar Juara Umum TDP Series Sumatra
Pemkab Siak Apresiasi PTPN IV PalmCo atas Pembinaan Santri Lewat Festival Hadroh 2026
25 Bus Disiapkan, PTPN IV PalmCo Buka Mudik Gratis Lebaran 2026