Harmoni Keberagaman di Perkebunan PTPN, Imlek Jadi Cermin Toleransi yang Mengakar

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Kamis, 19 Februari 2026 | 07:30 WIB
Harmoni keberagaman di lingkungan perkebunan PTPN terlihat saat Imlek, lewat kisah pekerja Tionghoa yang merasakan toleransi dan solidaritas nyata. (Dok. PTPN)
Harmoni keberagaman di lingkungan perkebunan PTPN terlihat saat Imlek, lewat kisah pekerja Tionghoa yang merasakan toleransi dan solidaritas nyata. (Dok. PTPN)

Kabar BUMN – Industri perkebunan kerap dipandang sebagai lingkungan kerja yang keras, monoton, dan minim ruang interaksi sosial.

Gambaran tersebut sering melekat pada aktivitas panen, target produksi, hingga hamparan kebun yang luas membentang. Namun di balik ritme kerja yang padat, tersimpan kehidupan sosial yang hangat dan penuh warna.

Di tengah kesibukan operasional, nilai keberagaman tumbuh secara alami melalui perjumpaan sehari-hari para pekerja.

Baca Juga: Menu Berbuka Puasa Khas Malaysia, Mudah Ditemukan di Kaki Lima di Kuala Lumpur

Interaksi yang terjalin bukan sekadar hubungan profesional, melainkan berkembang menjadi relasi yang sarat empati. Dari sanalah harmoni terbentuk tanpa perlu banyak seremoni.

Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi salah satu momen yang memperlihatkan wajah keberagaman tersebut. Bukan lewat pesta besar atau dekorasi meriah, tetapi melalui sikap saling menghargai yang sudah menjadi kebiasaan. Nilai toleransi hadir dalam bentuk sederhana namun konsisten.

Kisah itu tergambar dari pengalaman Akiong, petugas panen di Afdeling III Kebun Lubuk Dalam, PTPN IV Regional III, Riau.

Baca Juga: Jelang Penutupan Februari, BUMN Teknologi Pertahanan Masih Buka Rekrutmen Magang Admin untuk Mahasiswa Semester Akhir

Sebagai satu-satunya karyawan keturunan Tionghoa di lingkungan kerjanya, ia justru merasakan penerimaan yang tulus. Lingkungan dengan latar belakang mayoritas berbeda tak membuatnya merasa terasing.

“Saya bangga bisa bekerja di sini. Walaupun saya satu-satunya etnis Tionghoa di Kebun Lubuk Dalam, saya tidak pernah merasa diperlakukan berbeda. Sejak awal bergabung, rekan-rekan menerima saya apa adanya,” ujarnya.

Menurutnya, toleransi di kebun bukan sekadar wacana. Ia hadir melalui tindakan kecil yang saling menjaga perasaan. Saat Ramadan tiba, ia berupaya menghormati rekan-rekannya yang berpuasa, sementara pada hari raya, silaturahmi berlangsung tanpa sekat.

Baca Juga: Butuh Ucapan Ramadan? Ini 15 Kalimat Hangat yang Cocok untuk Pesan dan Media Sosial

“Kami saling menjaga perasaan. Itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa perlu diatur,” ucapnya.

Rutinitas kerja di kebun juga membawa perubahan dalam kehidupannya. Aktivitas fisik yang intens dan kerja tim yang solid membuat kondisi tubuhnya terasa lebih bugar. Ia mengaku kini jarang mengalami gangguan kesehatan.

“Sekarang saya jarang sakit. Saya merasa pekerjaan ini justru membuat tubuh saya lebih kuat,” tuturnya sambil tersenyum.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini