Baca Juga: Program TJSL PLN 2025 Sentuh 700 Ribu Warga, Dorong Ekonomi dan Lapangan Kerja Nasional
Cerita lain datang dari Tony Lie, Asisten Tata Usaha di Kebun Kemitraan Tanah Putih, Rokan Hilir, Riau. Karyawan keturunan Tionghoa yang memeluk Islam ini menilai identitas etnis dan keyakinan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan selaras dalam kehidupan profesional.
“Saya Muslim dan saya Tionghoa. Itu bukan hal yang aneh. Saya menjalankan puasa, beribadah, dan tetap diterima sebagai bagian dari tim. Tidak ada jarak,” ujarnya.
Ia melihat isu toleransi kerap muncul dari asumsi luar, bukan dari realitas di lapangan. Dalam keseharian, yang lebih terasa adalah solidaritas sebagai sesama pekerja. Tanggung jawab bersama menjadi perekat utama.
Baca Juga: 4 Masjid Besar dan Megah di Malaysia, Salah Satu Destinasi Terbaik untuk Disinggahi di Bulan Ramadan
“Pada akhirnya, semua kembali kepada tanggung jawab. Pekerjaan harus selesai, administrasi harus rapi. Perbedaan tidak mengurangi solidaritas,” ujarnya.
Bagi Tony, profesionalisme, kejujuran, dan ketelitian adalah prinsip utama dalam bekerja. Setiap tugas memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Nilai tersebut ia pegang tanpa memandang latar belakang siapa pun.
Di kebun, suasana Imlek memang tidak semeriah pusat kota. Namun kehangatan tetap terasa lewat hal sederhana, seperti berbagi kue keranjang di kantor. Gestur kecil itu menjadi simbol kebersamaan yang tulus.
Baca Juga: Lampu Tenaga Surya untuk Nelayan Cilamaya, Melaut Malam Kini Lebih Aman dan Produktif
Bagi para pekerja, kebun bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Di sanalah sebagian besar waktu dihabiskan dan relasi perlahan berubah menjadi rasa kekeluargaan. Dalam ruang itulah keberagaman menemukan bentuknya yang paling nyata.
Pergantian tahun pun membawa harapan akan kesehatan, kestabilan hidup, serta masa depan keluarga yang lebih baik. Ada pula doa agar perusahaan terus bertumbuh sehingga roda kehidupan tetap bergerak. Ketergantungan pada keberlangsungan usaha menjadi kesadaran bersama.
Potret ini menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari program besar atau slogan resmi. Ia bertumbuh dari interaksi manusia yang saling memahami dan menghargai. Di tengah kerja keras dan kesederhanaan, keberagaman justru menemukan ruangnya. ***
Artikel Terkait
Pemkab Siak Apresiasi PTPN IV PalmCo atas Pembinaan Santri Lewat Festival Hadroh 2026
25 Bus Disiapkan, PTPN IV PalmCo Buka Mudik Gratis Lebaran 2026
Produksi PKO PTPN IV Regional III Naik Jadi 115 Ribu Ton di 2025, Tata Kelola Makin Solid
Ekspansi Energi Hijau, PTPN IV PalmCo Siapkan 16 Pabrik CBG dan Ribuan Lapangan Kerja Ramah Lingkungan
“Miniatur Indonesia” di Perkebunan Sawit, PTPN IV PalmCo Bangun SDM Inklusif untuk Dukung Ketahanan Energi