Pertamina Tancap Gas Kembangkan SAF Global, Siap Tembus Pasar Eropa dan Asia-Pasifik

Photo Author
Dwi NM, Kabar BUMN
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 09:30 WIB
Pertamina bangun ekosistem SAF tersertifikasi global, siap ekspor dan dukung dekarbonisasi penerbangan. (Dok. Pertamina)
Pertamina bangun ekosistem SAF tersertifikasi global, siap ekspor dan dukung dekarbonisasi penerbangan. (Dok. Pertamina)

"Hal ini menunjukkan kesiapan operasional end-to-end yang sebenarnya dalam ekosistem kami sendiri,” paparnya.

Saat ini, Pertamina tengah memperluas skala komersial SAF melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan memasuki fase on stream pada 2029.

Baca Juga: Pemerintah NTB dan ITDC Perkuat Mitigasi KEK Mandalika, Bersiap Lebih Tangguh

Peningkatan kapasitas tersebut diarahkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1 persen untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar Asia-Pasifik dan Eropa.

Agung juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi, harmonisasi standar karbon lintas negara, serta penguatan skema sertifikasi agar SAF Indonesia dapat diakui secara luas di pasar global.

“Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural – yang sangat penting untuk jangka panjang, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi.

Baca Juga: Lowongan Magang Marketing Onsite di Jakarta Timur, Daftar Sebelum 4 Maret 2026!

"Keduanya saling melengkapi dalam meningkatkan skala SAF. Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi yang kuat, dan harmonisasi standar internasional,” jelasnya.

Menurut Pertamina, tantangan utama pengembangan SAF global saat ini bukan lagi pada teknologi pengolahan, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan.

Indonesia memiliki potensi besar dari limbah seperti UCO dan residu POME (Palm Oil Mill Effluent) yang, jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan sertifikasi ketat, dapat menjadi sumber pasokan SAF global tanpa bersaing dengan kebutuhan pangan.

Melalui pengembangan SAF, Pertamina menegaskan perannya tidak hanya dalam menekan emisi sektor penerbangan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, menciptakan nilai ekonomi domestik, serta mempercepat kolaborasi global menuju ekosistem penerbangan rendah karbon.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dwi NM

Tags

Artikel Terkait

Terkini