PHE Catat Cost Optimization USD635 Juta, Tantangan 2026 Kian Kompleks

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Kamis, 14 Mei 2026 | 10:30 WIB
PHE mencatat cost optimization USD635 juta pada 2025 dan menyiapkan strategi baru untuk menghadapi tantangan industri migas di 2026. (Dok. PHE)
PHE mencatat cost optimization USD635 juta pada 2025 dan menyiapkan strategi baru untuk menghadapi tantangan industri migas di 2026. (Dok. PHE)

Kabar BUMN - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina berhasil mencatat performa positif lewat realisasi cost optimization sebesar USD635 juta dalam program Optimus 2025.

Hasil tersebut menjadi bukti kuat komitmen perusahaan dalam mendorong inovasi sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi tantangan operasional yang diperkirakan semakin kompleks pada 2026.

Di tengah berbagai dinamika industri, termasuk tuntutan peningkatan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta asset integrity management, PHE mampu melampaui target efisiensi yang sebelumnya dipatok sebesar USD250 juta.

Baca Juga: Profitabilitas BRI Naik pada Triwulan I 2026, Kredit dan Aset Ikut Tumbuh

Realisasi cost optimization yang mencapai USD635 juta itu juga menyumbang sekitar 57 persen terhadap total cost optimization di lingkungan Pertamina dan membawa PHE meraih predikat Grand Champion Optimus 2025.

Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program secara konsisten di seluruh lini organisasi.

“Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, kita tetap mampu menghadirkan kinerja unggul melalui disiplin eksekusi dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujarnya saat membuka kegiatan OPTIMUS Award 2025 & Kick Off 2026 di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga: ANTARA Buka Program Magang Administrasi, Terbuka untuk Semua Jurusan

Memasuki tahun 2026, tantangan yang dihadapi perusahaan diperkirakan semakin besar.

Ruang untuk melakukan optimalisasi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) semakin terbatas sehingga perusahaan perlu menghadirkan terobosan baru dalam efisiensi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi bisnis.

Selain keterbatasan ruang optimalisasi, kondisi mayoritas lapangan migas yang sudah mature dan mengalami penurunan produksi atau declining juga menjadi tantangan tersendiri bagi operasional perusahaan.

Baca Juga: ITDC Perkuat Infrastruktur Keselamatan dan Kelistrikan di Sirkuit Mandalika

Situasi tersebut membuat strategi pengelolaan operasi perlu dilakukan dengan lebih efektif dan terukur.

Sementara itu, Komisaris PHE Nanang Untung menyebut perusahaan akan fokus pada tiga pilar utama untuk menjaga performa bisnis, yakni revenue growth, efisiensi, dan cost avoidance.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini