Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono menyoroti pentingnya penguatan rantai nilai transisi energi Indonesia melalui optimalisasi sektorhulu migas, pengembangan energi rendah emisi, dan percepatan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia.
Selain itu, Agung juga menekankan pentingnya penguatan rantai nilai transisi energi Indonesia melalui penguatan kolaborasi dengan stakeholder, asosiasi, policy makers, think tank, dan pelaku industri dalam mendorong kebijakan energi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga: BULOG Dorong Penyaluran Beras Natura untuk ASN, TNI, dan POLRI, Ini Tujuannya
“Forum ini juga menekankan pentingnya proses dialog strategis dan knowledge sharing secara kolaboratif dan berkelanjutan sebagai fondasi pembentukan kebijakan yang mampu menopang kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan energi nasional,” ujar Agung.
Selanjutnya, dilaksanakan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan sektor energi nasional, antara lain Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan, Senior Fellow SCUP Retno Gumilang Dewi, Pengamat Hulu Migas Benny Lubiantara, dan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro.
Dalam diskusi tersebut, para panelis membahas berbagai isu strategis mulai dari penguatan sektor hulu migas, optimalisasi produksi migas nasional, pengembangan gas sebagai energi transisi, percepatan hilirisasi energi, hingga pengembangan biofuel dan biorefinery sebagai solusi energi rendah emisi.
Baca Juga: Karier Teknik di Jakarta! GDPS Buka Kesempatan untuk Posisi Engineering Staff
Hendra Gunawan menekankan pentingnya penguatan regulasi sub sektor migas yang adaptif dalam mewujudkan ketahanan energi baik hulu maupun hilir.
Sementara Benny Lubiantara menyoroti tantangan produksi migas yang terus menurun sehingga memerlukan reformasi fiskal dan inovasi dengan pemercepatan inovasi dan penerapan teknologi seperti kegiatan eksplorasi, enhanced oil recovery, dan migas non konvensional.
Pada sektor hilir dan energi rendah emisi, Retno Gumilang Dewi menegaskan urgensi pengembangan bio-based fuel dan biorefinery sebagai bagian dari solusi energi berkelanjutan nasional.
Baca Juga: PT GDPS Buka Lowongan Senior Internal Auditor, Penempatan Bandara Soekarno-Hatta
Menurutnya, optimalisasi strategic value chain bio-based fuel dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi domestik.
Adapun Komaidi Notonegoro menyoroti pentingnya pemodelan ekonomi energi nasional dan strategi distribusi energi yang merata serta efisien.
Ia menegaskan bahwa peran BUMN, khususnya Pertamina, sangat penting dalam menjaga keandalan distribusi energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Baca Juga: Cara Mudah Berkurban Lewat Pospay, Praktis Hanya dari Smartphone
Artikel Terkait
Edukasi Energi Bersih, Pertamina Gandeng ASRI Energi untuk Pelajar
Aksi Hijau May Day, Pertamina EP Bunyu Field Tanam Pohon serta Bersihkan Sampah
Pertamina Drilling Rangkul Gen Z Berinovasi Sulap Limbah Makanan Rig Jadi Cairan Anti Karat
Pertamina Internasional EP dan SPE UI Tanam Mangrove di Bekasi, Dukung Keberlanjutan Pesisir
Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB, Wadah Mahasiswa Tunjukkan Ide Kreatif