"Karena Makmur adalah ekosistem pertanian berbasis mandiri dengan pupuk nonsubsidi,” tambah Rahmad.
Baca Juga: Inovasi Pupuk Indonesia Grup Ciptakan Potensi Benefit hingga Rp2,5 Triliun
Hingga Agustus 2023, Pupuk Indonesia telah menjalankan program Makmur di atas lahan seluas 226.299 hektar atau 131 persen dari target 172.667 hektar.
Begitu juga dengan peningkatan produktivitas, seperti padi dengan rata-rata meningkat 14 persen, jagung rata-rata meningkat 23 persen, tebu meningkat rata-rata 27 persen, kopi meningkat rata-rata 48 persen, dan sawit meningkat rata-rata 7 persen.
Program singkatan dari Mari Kita Majukan Usaha Rakyat ini banyak diminati oleh para petani.
Baca Juga: Pabrik Katalis Merah Putih, Pupuk Indonesia Dukung Hilirisasi dan Kurangi Impor
Salah satunya adalah Mifta Huda, petani hortikultura komoditi kentang asal Dieng ini berharap program Makmur dapat menjawab berbagai kendala yang dihadapi oleh petani.
Ia menyebut beberapa kendala yang dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan pupuk hingga akses pasar.
Menurutnya, produktivitas kentang di Indonesia belum maksimal dan masih kalah saing dengan produk impor.
Baca Juga: PLN Gandeng Pupuk Indonesia dan ACWA Power Siap Bangun Pabrik Hidrogen Terbesar di Indonesia
“Kita sadar pendapatan kita itu fluktuatif, karena kita dihadapkan dengan produk-produk luar negeri seperti kentang impor.
"Kita berharap ada pembinaan untuk kentang dalam negeri sehingga bisa bersaing.
"Dengan program Makmur yang menggunakan pupuk nonsubsidi kita berharap benar-benar menjawab kendala yang selama ini kami hadapi, kami berharap program Makmur juga dapat digenjot ke berbagai pelosok negeri,” kata Huda.
Baca Juga: Telah Rasakan Manfaatnya, Petani Durian Banyuwangi Tertarik Gabung Makmur Pupuk Indonesia
Selain program Makmur, Pupuk Indonesia juga terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada petani melalui pemanfaatan teknologi.