rilis-bumn

Pupuk Indonesia dan Chevron Sepakati Studi Pengembangan Teknologi Penangkapan Karbon

Kamis, 1 Agustus 2024 | 18:00 WIB
PT Pupuk Indonesia berkeja sama dengan Chevron untuk melakukan penilaian terhadap teknologi penangkapan karbon. (Dok. Pupuk Indonesia)

Kabar BUMN - PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menandatangani perjanjian studi pengembangan bersama atau Joint Development Study Agreement (JDSA) dengan Chevron New Energies International Pte. Ltd.

Kerjasama ini bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap teknologi penangkapan karbon sebagai langkah dekarbonisasi sekaligus mengoptimalkan produksi amonia rendah karbon di kawasan industri PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).

Penandatangan JDSA dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi bersama Director of Chevron New Energies International, Pte., Ltd. Andrew S Mingst di Jakarta, Rabu (31/7/2024).

Baca Juga: Hanya Satu Jam dari Bandung, Rekomendasi Tempat Liburan Keluarga Bernuansa Alam di Ciwidey

Penandatanganan ini turut disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto.

Rahmad menuturkan bahwa studi pengembangan teknologi penangkapan karbon ini semakin memperluas kerjasama Pupuk Indonesia dalam hal mengurangi emisi karbon pada industri pupuk nasional.

Karena arah pengembangan perusahaan ke depan adalah menjadi industri pupuk dan petrokimia terintegrasi dengan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Baca Juga: Elnusa Tingkatkan Eksplorasi Migas dari Rokan hingga Seram

“Sejalan dengan komitmen global, studi pengembangan penangkapan emisi karbon bersama Chevron ini akan menjadi solusi konkrit Pupuk Indonesia Grup dalam program dekarbonisasi untuk menciptakan proses produksi amonia yang lebih rendah karbon atau blue ammonia,” ujar Rahmad.

Adapun tujuan dari JDSA ini, tambahnya, pertama untuk memastikan kelayakan proyek penangkapan karbon dan offtake amonia rendah karbon yang nanti akan dihasilkan dari proses penangkapan karbon ini.

Blue ammonia yang dihasilkan dari proses tersebut dapat digunakan untuk bahan baku pupuk seperti Urea dan NPK untuk mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur Tingkatkan Produksi Migas, Rampungan 2 Pengeboran Sumur di Lapangan Sejadi

Selain itu, blue ammonia juga dapat menjadi salah satu sumber alternatif energi bersih masa depan.

Negara dengan komitmen tinggi untuk menyerap blue ammonia sebagai salah satu alternatif energi bersih masa depan adalah Jepang.

Halaman:

Tags

Terkini