Selain itu, Bendungan Jlantah diharapkan mampu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) secara signifikan.
Pada lahan seluas 806 hektar, IP akan naik dari 172 persen menjadi 272 persen. Hal serupa berlaku untuk lahan 688 hektar yang juga diproyeksikan mencapai IP 272 persen.
Ermy juga menjelaskan, bendungan dengan tinggi 70 meter dan panjang 404 meter ini memiliki kapasitas tampung 10,97 juta meter kubik air.
Sumber air baku yang dihasilkan mencapai 150 liter per detik untuk melayani Kecamatan Jumapolo, Jumantono, Jatipuro, dan Karanganyar.
Baca Juga: Lagi, Brantas Abipraya Torehkan Prestasi Raih Peringkat 1 Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2024
Selain itu, keberadaan bendungan ini mampu mereduksi banjir di area persawahan Desa Bendosari, Sukoharjo, hingga 87 hektar.
Potensi Lain: Energi dan Agrowisata
Tidak hanya untuk pengairan, Bendungan Jlantah juga mendukung ketahanan energi melalui potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLMTH) dengan kapasitas 0,625 Megawatt.
Baca Juga: PT MUM Kini Buka Lowongan Kerja Posisi Supporting HRIS, Yuk Jadi Insan BUMN!
Lokasinya yang strategis, diapit oleh Sungai Jlantah dan Sungai Puru, menjadikan bendungan ini berpotensi dikembangkan sebagai kawasan agrowisata.
Hal ini diyakini dapat menciptakan lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Proyek Bendungan Jlantah sendiri merupakan hasil kerja sama Waskita-Adhi dalam skema Kerja Sama Operasional (KSO).
Baca Juga: Pesan Porter Kini Semudah Sentuhan Jari di Access by KAI, Tarifnya Pasti!
Hingga kini, Waskita telah menyelesaikan pembangunan 15 dari total 24 bendungan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sementara sembilan proyek lainnya masih dalam proses pembangunan.***