Ia menyebutkan bahwa proyek senilai Rp115,7 miliar ini dikerjakan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) Waskita-STK dan menjadi aset penting yang harus dikelola secara berkesinambungan.
Baca Juga: Waisak 2025 di Borobudur: Meski Nonton dari Luar, Rp50 Ribu Cukup Buat Nikmati Keindahan Lampion
“Kami percaya dapat mendorong target swasembada pangan yang kini menjadi fokus pemerintah,” kata dia.
SKPT Morotai sendiri dilengkapi dengan beragam fasilitas penunjang seperti Ice Flake Machine (IFM) berkapasitas 10 ton, Integrated Cool Storage (ICS) yang mampu menyimpan hingga 200 ton, kantor administrasi, barak nelayan, mess pegawai, gudang logistik, serta tanggul laut atau seawall.
Ermy memaparkan bahwa pembangunan seawall menggunakan buis beton menjadi salah satu bentuk inovasi tim di lapangan untuk mengatasi minimnya ketersediaan material alam seperti batu armor dan juga perubahan garis pantai di sekitar pelabuhan akibat abrasi laut.
Baca Juga: Januari-April 2025, KAI Catatkan Layanan Angkutan Retail Naik 17 Persen, Kontributor Utama Batu Bara
“Pekerjaan seawall dengan menggunakan buis beton menjadi perhatian khusus karena bertujuan untuk mengatasi kemunduran garis pantai pada SKPT Morotai."
"Inovasi ini bermanfaat pula dalam mengefisiensi biaya sekaligus menjaga mutu pembangunan SKPT,” tutur dia.
Sebagai catatan, Waskita Karya merupakan BUMN konstruksi yang telah berdiri sejak tahun 1961 dan memiliki pengalaman lebih dari 64 tahun dalam membangun infrastruktur di Indonesia.
Pada 2024, perusahaan mencatatkan sejumlah kinerja positif.
Sepanjang tahun lalu, Waskita berhasil memangkas utang sebesar Rp14,7 triliun sehingga tersisa Rp69,3 triliun. Perusahaan induk juga mencatatkan laba berjalan sebesar Rp4,8 triliun.
Laba ini dihasilkan dari kenaikan pendapatan lain-lain berkat pengakuan gain dari modifikasi utang serta peningkatan efisiensi dalam rasio Beban Pokok Pendapatan terhadap Pendapatan Usaha, yang mendorong margin laba kotor naik dari 0,6 persen pada 2023 menjadi 5,7 persen pada 2024. ***