"Hal ini menjadi landasan penting bagi BPH Migas dalam memastikan regulasi yang dikeluarkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan, sekaligus tetap menjaga kepentingan nasional.”
Senada dengan itu, Mustafid Gunawan, Kepala LEMIGAS, menyoroti kebutuhan akan harmonisasi regulasi lintas sektor.
Baca Juga: Krakatau Steel dan Pertagas Perkuat Infrastruktur Pipanisasi BBM untuk Ketahanan Energi Nasional
Menurutnya, keseimbangan aspek teknis dan keekonomian sangat penting untuk menjamin kelayakan proyek dari awal hingga akhir.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada salah satu sisi rantai nilai gas bumi.
"Diperlukan keselarasan dari hulu, midstream hingga hilir, terutama dalam memastikan transparansi dan kelayakan keekonomian proyek, agar pembangunan infrastruktur berjalan optimal dan berkelanjutan.”
Baca Juga: Organisasi Internasional Bergengsi Akui Budaya Keselamatan Kerja Pertagas
Dari perspektif industri hulu, VP Komersialisasi SKK Migas Ufo Budiarius Anwar menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci masa depan industri gas nasional.
“Industri gas bumi tidak bisa lagi bergerak sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama erat antara hulu, midstream, dan hilir.
"Ini bukan soal persaingan, tapi bagaimana kita bisa berkolaborasi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi bangsa.”
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2024: Pertagas Berbagi Ceria dan Cerita Bersama Anak-Anak Kampung Buku Cibubur
Sementara itu, Rosa Permata Sari, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, membawa semangat kolaboratif dari sisi Subholding Gas Pertamina.
Ia menyatakan bahwa integrasi menyeluruh dari sisi kebijakan, infrastruktur, dan model bisnis sangat penting dalam mendorong transformasi energi nasional.
“PGN melihat bahwa semua elemen harus terintegrasi.
Baca Juga: Pertagas Hijaukan Pesisir Indramayu dengan Menanam 500 Pohon Mangrove di Hari Lingkungan Hidup