"Implementasinya di Indonesia melibatkan berbagai program dan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” jelasnya.
Baca Juga: Tanda-Tanda Dehidrasi Ringan yang Kerap Diremehkan, Dampaknya Berbahaya untuk Ginjal
Tenaga Pendamping SCI, Muh Syair, yang menjadi pengajar sekolah lapang, mengakui tantangan terbesar adalah komitmen petani untuk hadir karena akses lahan yang jauh.
Namun, ia menegaskan bahwa pendampingan ini bukan sekadar mengajarkan keterampilan, tetapi juga menanamkan harapan.
“Petani bukan sekedar profesi tapi juga penyangga kehidupan.
Baca Juga: 4 Pilar AI Telkom: Percepat Digitalisasi, Dorong Daya Saing, dan Kuatkan Talenta Lokal
"Melalui pendampingan ini, kita tidak hanya menabur ilmu tapi juga sebuah harapan untuk perubahan.
"Untuk itu, kami berkomitmen melanjutkan Sekolah Lapang baik di lokasi formal seperti di kantor desa ini ataupun mendekat ke lokasi lahan petani supaya semakin banyak petani yang dapat merasakan manfaat dari program ini,” tuturnya.
Dengan capaian penghargaan Grand Prize di IEI 2025, inovasi Bioferdom tidak hanya menjadi bukti kepedulian Pertamina terhadap lingkungan dan petani lokal, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.***