Kini jumlahnya lima kali lipat dan diperkirakan bisa menjadi 30 tenaga kerja lokal pada dua tahun ke depan bisa menyerap 30 tenaga kerja.
Nanas-Qu juga menggandeng lebih dari 900 petani nanas binaan Ngudiono, untuk menyediakan bahan bakunya.
Ngudiono optimistis target itu tercapai karena Nanas-Qu telah sampai ke negara lain. Ia pun membidik pasar baru seperti Timur Tengah dan Asia Timur.
Di dalam negeri, Nanas-Qu juga memperkuat jalur distribusi di berbagai wilayah, termasuk di Jabodetabek.
"Upaya ini diharapkan mampu mendorong peningkatan omzet sekaligus memperluas jangkauan produk inovasi berbasis nanas," harapnya.
Saat ini, Nanas-Qu membina empat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ngudiono berharap jumlah UMKM binaannya bisa meningkat lima kali lipat.
Caranya dengan memperluas kolaborasi ke desa-desa penghasil nanas lain di Purbalingga dan sekitarnya.
Baca Juga: 4 Tahun Holding Ultra Mikro, PNM Hadirkan Perubahan Nyata untuk Jutaan Perempuan Indonesia
“Ekosistem industri olahan nanas lokal dan efek domino ekonomi pedesaan pasti meningkat,” ujar Ngudiono.
Dengan produksi yang meningkat, Nanas-Qu berupaya menjaga kelestarian lingkungan dengan meminimalkan limbah. Sebelumnya, kulit dan pucuk nanas dibuang ke sungai.
Sekarang, sisa olahan itu diubah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos, oleh satu kelompok pengelola limbah kulit nanas. Lingkungan sekitar kini lebih bersih.
Baca Juga: 4 Tempat Kuliner yang Direkomendasikan di Imogiri, Yogyakarta
“Pertapreneur mengajarkan kami untuk peduli pada 2P, yaitu planet dan people, namun tetap harus profit," kata Ngudiono.