Kabar BUMN - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mencatat kinerja yang tetap stabil pada semester I 2025.
Meski belum mencatatkan laba signifikan, pendapatan perusahaan mampu terjaga di kisaran Rp7,5 triliun atau naik tipis dibanding periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan juga terlihat pada kinerja operasional PTKS, yang membaik dari -107,2 juta USD pada semester I 2024 menjadi -84,5 juta USD pada semester I 2025, naik sekitar USD22,7 juta.
Peningkatan ini tak lepas dari kembali beroperasinya fasilitas Hot Strip Mill (HSM).
Menurut ahli hukum perdagangan dan bisnis, Dr. Adiwarman, S.Sos., S.H., M.H., industri baja selalu menjadi tulang punggung pembangunan sebuah bangsa.
"Jika industri baja rapuh, fondasi kemandirian ekonomi ikut goyah,” ujarnya yang juga sebagai pengajar di Departemen Ilmu Administrasi Fiskal Universitas Indonesia, saat diminta pandangan mengenai laporan keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk per Juni 2025.
Di tengah gejolak harga baja global, biaya energi yang tinggi, dan tekanan produk impor, capaian perbaikan operasional ini sendiri merupakan sinyal positif.
Dengan catatan pendapatan yang relatif stabil, KRAS menunjukkan viability dalam industri baja di tengah tantangan eksternal.
Pencermatan faktor internal dan eksternal menjadi krusial bagi pengambilan keputusan bisnis. Identifikasi tepat atas faktor-faktor tersebut akan menghasilkan strategi yang lebih jitu dalam menghadapi tantangan (Daft, 2008).
Baca Juga: Pontastic Deal 2025: Kejar Hadiah Keren Hanya dengan Menukar Telkomsel Poin
Terus Bertransformasi
Di balik angka merah, ada cerita transformasi yang terus berjalan. Sebagai perusahaan dengan kompetensi tinggi, KRAS memiliki knowledge management yang dapat dioptimalkan untuk mempercepat perubahan (Jones, 2013).
Krakatau Steel mengoptimalkan Hot Strip Mill #1, salah satu fasilitas produksi strategis yang mampu meningkatkan efisiensi secara masif.