rilis-bumn

Pertamina Dorong Transisi Energi Hijau Lewat Inovasi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Pertamina mempercepat transformasi energi hijau lewat pengembangan bahan bakar ramah lingkungan seperti biodiesel dan SAF dari minyak jelantah untuk mendukung target NZE 2060. (Dok. Pertamina)

Kabar BUMN – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Komitmen ini diwujudkan melalui pengembangan bahan bakar ramah lingkungan yang berevolusi dari B20, B30, B40, hingga kini mencapai tahap produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Dalam ajang Indonesia International Sustainable Forum (IISF) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa pengembangan bahan bakar ramah lingkungan oleh Pertamina merupakan wujud nyata dari perjalanan ekonomi dan ekologi yang saling melengkapi.

Baca Juga: Menemukan Kedamaian di Desa Wisata Melung, Hidden Gem dari Banyumas

“Ini bukan hanya perjalanan sukses dalam hal ekonomi karena menciptakan penghematan devisa yang signifikan bagi negara, tetapi juga sebagai perjalanan ekologi."

"Menempatkan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) sebagai inti adalah sesuatu yang sangat berarti,” ujar Agung.

Agung juga menekankan bahwa penerapan program biodiesel dari B20 hingga B40 telah berkontribusi besar pada kemandirian energi Indonesia.

Baca Juga: Bantu Petani Bangkit, PT Timah Salurkan Mesin dan Bibit hingga ke Belitung Timur

Program ini tidak hanya memastikan ketersediaan energi dalam negeri, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahap produksinya.

“Sejak penerapan B20 dan kini B40, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dengan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” lanjutnya.

Selain biodiesel, inovasi Pertamina kini merambah ke pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang dihasilkan dari minyak jelantah.

Baca Juga: Dahana Ajak Media Subang Perkuat Sinergi Lewat Media Gathering 2025

Agung menjelaskan bahwa bahan bakar ini memiliki dampak besar terhadap penurunan emisi karbon dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sistem ekonomi sirkular.

“Kami telah menggunakan SAF itu dari minyak goreng masyarakat untuk terbang. Jadi ini bukan hanya tentang mengurangi emisi karbon, tetapi juga bagian dari ekonomi sirkular karena masyarakat dapat menukar minyak jelantah menjadi rupiah, yang kemudian diolah menjadi bahan bakar berkelanjutan dan efisien,” jelasnya.

Halaman:

Tags

Terkini