ITDC Wujudkan Ekonomi Sirkuler di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 Lewat Program “Integrated Food Surplus”

Photo Author
Dwi NM, Kabar BUMN
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 12:00 WIB
ITDC menggelar program Integrated Food Surplus pada 3–5 Oktober 2025 di Pertamina Mandalika International Circuit, The Mandalika, Lombok Tengah, NTB. (Dok. ITDC)
ITDC menggelar program Integrated Food Surplus pada 3–5 Oktober 2025 di Pertamina Mandalika International Circuit, The Mandalika, Lombok Tengah, NTB. (Dok. ITDC)

Kabar BUMN - Sebagai wujud nyata komitmen terhadap praktik berkelanjutan dalam setiap penyelenggaraan event internasional, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) berbasis ekonomi sirkuler melalui program “Integrated Food Surplus Program”.

Program tersebut digelar selama ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 yang digelar pada 3–5 Oktober 2025 di Pertamina Mandalika International Circuit, kawasan The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Program ini menjadi langkah konkret ITDC dalam mengelola pangan berlebih, mengurangi sampah makanan, serta meminimalisir jejak karbon dari aktivitas konsumsi selama penyelenggaraan acara berlangsung.

Baca Juga: Kuliner Bali yang Pedasnya Paling Nampol, Belum Tentu Cocok untuk Semua Orang

Program Food Surplus Management atau Pengelolaan Makanan Berlebih berbasis Ekonomi Sirkuler ini terbagi dalam dua kategori utama.

Kategori pertama adalah Food Takeaway, yaitu pengumpulan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari area VIP Royal Box, Deluxe, dan VIP Tent, Kitchen Dorna Sport, serta konsumsi panitia.

Makanan tersebut kemudian dikemas dan didistribusikan di hari yang sama kepada para volunteer dan masyarakat sekitar, termasuk kelompok anak-anak pengajian di kawasan The Mandalika.

Baca Juga: Terobosan Baru, KAI Services Hadirkan Gerbong Oleh-Oleh di Tiga Titik Sentral Laju Penumpang

Program ini berhasil mengolah kelebihan makanan menjadi 1.000 kotak makanan berukuran 500 ml atau setara 500 gram, berisi hidangan higienis yang masih layak dikonsumsi.

Langkah ini tidak hanya mengurangi pemborosan makanan, tetapi juga memberikan manfaat sosial nyata bagi komunitas lokal.

Program ini sekaligus mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu:

Baca Juga: Pertamina Tegaskan Komitmen Transisi Energi Lewat Inovasi Produk Rendah Karbon

  • SDG 2 – Zero Hunger: Mengurangi kelaparan dengan mendistribusikan makanan berlebih dan meningkatkan akses terhadap pangan bergizi.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production: Mendorong pola konsumsi bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah makanan.
  • SDG 13 – Climate Action: Mengurangi emisi karbon dari proses produksi, transportasi, dan pembuangan makanan.
  • SDG 11 – Sustainable Cities and Communities: Menguatkan keterlibatan komunitas lokal dalam praktik keberlanjutan untuk membangun ekosistem sosial yang inklusif dan tangguh.

Baca Juga: Curug Cidurian, Hidden Gem di Bogor yang Tawarkan Sensasi Liburan di Air Terjun Pribadi

Kategori kedua adalah Food Waste, yaitu pengelolaan makanan yang sudah tidak layak konsumsi untuk diolah kembali menjadi kompos.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dwi NM

Tags

Artikel Terkait

Terkini