Sementara di segmen Enterprise, perseroan membukukan Rp14,9 triliun, meski dihadapkan pada penurunan permintaan solusi korporasi.
Telkom tetap optimistis dengan memperkuat kapabilitas Connectivity+, Cybersecurity, dan Artificial Intelligence (AI), serta menjalin kemitraan dengan mitra teknologi global.
Baca Juga: 3 Kedai Teh di Yogyakarta, Sajikan Segelas Warna yang Menghangatkan Hati
Strategi ini menjadi pondasi bagi Telkom untuk memperkuat posisinya sebagai mitra utama digitalisasi pemerintahan dan korporasi besar, termasuk perluasan layanan IndiBiz untuk UMKM melalui jaringan Telkom Regional di seluruh Indonesia.
Di bisnis menara telekomunikasi, Mitratel mencatat pendapatan Rp6,9 triliun, naik 0,9% YoY, ditopang oleh pendapatan sewa menara dan pertumbuhan layanan serat optik sebesar 23,8% YoY.
EBITDA dan laba bersih meningkat menjadi Rp5,8 triliun dan Rp1,5 triliun, dengan margin EBITDA 83,8%.
Baca Juga: Ditopang Kondisi Makroekonomi Nasional, BRI Cetak Laba Rp41,2 Triliun Hingga Triwulan III-2025
Mitratel juga menambah 698 menara baru, sehingga total mencapai 40.102 unit, dengan tenancy ratio 1,55x.
Sekitar 59% menara berada di luar Jawa, mencerminkan dukungan Mitratel terhadap ekspansi jaringan nasional.
Pada bisnis Data Center dan Cloud, Telkom mencatat pendapatan Rp1,4 triliun.
Baca Juga: Pertamina NRE Catat Pertumbuhan Signifikan, Perkuat Langkah Menuju Energi Bersih Nasional
Melalui NeutraDC, Telkom mencapai utilization rate 89%, sementara total utilisasi seluruh fasilitas data center, termasuk neuCentrIX dan Telin, mencapai 77%.
Saat ini, Telkom memiliki 44 MW + 2.451 racks di 35 data center, tersebar di Indonesia dan tiga negara lainnya (Singapura, Hong Kong, dan Timor Leste).
NeutraDC juga memperkenalkan layanan baru Neutra Connect dan Neutra Compute sebagai bagian dari strategi membangun AI Fabric dan memperkuat posisi TelkomGroup di ekosistem data center berbasis AI.
Baca Juga: Menelusuri Keunikan Petak 9 Glodok: Surga Pecinan Tertua di Jakarta