Tangki tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan minyak mentah atau bahan baku kilang.
Baca Juga: PT Len Industri Buka Lowongan Magang Video Editor, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
Minyak mentah yang dibongkar dari kapal VLCC di SPM dialirkan melalui pipa bawah laut dan darat sepanjang 20 kilometer menuju tangki Lawe-lawe.
Ketiga, fasilitas utama kilang Balikpapan berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).
CDU berfungsi mengolah minyak mentah melalui proses distilasi, sementara RFCC mampu mengonversi residu atau sisa pengolahan menjadi produk bernilai tinggi.
Dengan fasilitas ini, kilang Balikpapan pasca RDMP dapat menghasilkan berbagai produk seperti Gasoline, Diesel, Avtur, LPG, serta produk turunan petrokimia berupa Propylene dan Sulfur.
Keempat, pada sisi hulu dan hilir migas, proyek ini didukung oleh Pipa Gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer.
Pipa tersebut berperan menyalurkan pasokan bahan baku energi ke kilang agar operasional berjalan optimal.
Baca Juga: Panduan Mencari Pemasukan Tambahan dengan Bisnis Makanan Agar Berumur Panjang
Kelima, di sektor hilir, Terminal BBM Tanjung Batu disiapkan sebagai fasilitas penerima hasil pengolahan kilang.
Terminal ini memiliki kapasitas 125 ribu kiloliter dan menjadi titik penyimpanan terakhir sebelum BBM didistribusikan ke wilayah Indonesia bagian timur.
“Kehadiran program terintegrasi energi ini akan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
"Kilang Balikpapan akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan hasil pengolahan yang berkualitas tinggi, dan mampu memanfaatkan setiap tetes minyak mentah menjadi produk berkualitas, termasuk petrokimia turunan yang berdampak bagi sektor industri,” jelas Baron.***