Kabar BUMN - Usia senja kerap menghadirkan tantangan tersendiri.
Kondisi fisik yang tak lagi prima, ruang gerak yang semakin terbatas, hingga peran sosial yang perlahan memudar membuat sebagian lansia merasa terpinggirkan.
Padahal, di balik rambut memutih dan langkah yang melambat, tersimpan pengalaman panjang serta harapan untuk tetap merasa berarti di tengah masyarakat.
Baca Juga: Mudik Gratis Lebaran 2026, Pelindo Siapkan 7.000 Kursi dengan 13 Rute Layanan
Indonesia sendiri kini memasuki fase penduduk menua.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase lansia meningkat hampir 4% dalam kurun 2015–2024 menjadi 12%.
Bahkan pada 2045, jumlah lansia diproyeksikan mencapai 65,82 juta jiwa atau 20,31% dari total populasi.
Baca Juga: PT Dahana Sabet Zero LTI di Project Petrosea BBB, Tegaskan Komitmen Budaya Keselamatan
Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya menjaga kesehatan dan kemandirian kelompok usia lanjut.
Menjawab tantangan tersebut, studi social mapping Pertamina EP (PEP) Jambi pada 2024 mengidentifikasi Desa Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi sebagai wilayah potensial pengembangan lansia.
Di desa ini telah berdiri Sekolah Lansia Tangguh (SELANTANG) yang dibentuk oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Jambi sejak 2023.
Baca Juga: 4 Tempat Berburu Takjil yang Legendaris di Jakarta, Tak Pernah Sepi Pemburu Hidangan Berbuka Puasa
Sekolah Lansia Tangguh - Bina Keluarga Lansia (BKL) Kamboja di Desa Kota Karang menjadi ruang belajar sekaligus wadah berbagi bagi para lansia.
Di sana, mereka mendapatkan dukungan untuk menjaga kesehatan, tetap aktif, serta memperkuat peran keluarga dalam pendampingan.