Pemerintah pun menargetkan penurunan angka tersebut hingga mencapai 14% sebagai bagian dari agenda prioritas pembangunan kesehatan.
Baca Juga: Pemandangan Indah Berselimut Kabut di Bukit Biru Tenggarong, Kalimantan Timur
Tantangan ini menuntut tidak hanya intervensi nutrisi yang tepat, tetapi juga sistem pendataan yang akurat dan terintegrasi agar setiap langkah dapat terukur dan berkesinambungan.
SGM Social Responsibility Telkom Hery Susanto, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis data menjadi elemen penting dalam memastikan keberhasilan program.
“Telkom memandang bahwa penanganan stunting tidak hanya memerlukan bantuan logistik, tetapi juga penguatan ekosistem data yang terintegrasi."
Baca Juga: Sentuhan PHE Jambi Merang Bikin Singkong Naik Kelas Lewat Tepung Mocaf
"Melalui Stunting Action Hub, kami berupaya memastikan setiap intervensi yang diberikan dapat terpantau secara terukur dan real-time."
"Sinergi antara bantuan fisik dan inovasi digital ini merupakan kunci untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan, sekaligus menunjukkan komitmen kami bahwa teknologi harus hadir untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan yang paling mendasar ” ujarnya.
Inisiatif ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Telkom yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-3, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being).
Baca Juga: PELNI Perkuat Layanan Mudik Lebaran 2026, Dari Menu Nusantara hingga Fitur Digital Modern
Dengan menggabungkan intervensi gizi dan digitalisasi data kesehatan, Telkom mendorong praktik penanggulangan stunting yang lebih transparan, efektif, dan berkelanjutan.
Langkah tersebut menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing di masa depan. ***