Saat ini, Pertamina juga memiliki kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan energi global.
“Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal,” katanya.
Baca Juga: AirNav Indonesia Tegaskan Kesiapan Hadapi Gangguan Sinyal Navigasi Penerbangan
Di sisi lain, koordinasi dengan pemerintah dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan investasi energi.
Ketika tingkat pengembalian investasi (rate of return) masih terbatas, diperlukan dukungan melalui perpanjangan masa kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, maupun insentif fiskal.
Pemanfaatan teknologi juga dinilai semakin penting untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko operasi.
Baca Juga: 4 Stasiun Kereta Tertua di Jepang, Masih Mempertahankan Bangunan Aslinya
Ia mencontohkan penggunaan super computer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh perusahaan energi global untuk mendukung proses eksplorasi dan pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Di tengah sejumlah tantangan tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor energi, termasuk pada sumber daya migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR).
Untuk mengoptimalkan potens itersebut, Pertamina mendorong pengembangan teknologi produksi dan optimalisasi lapangan eksisting melalui berbagai pendekatan, termasuk chemical enhanced oil recovery (EOR) dan optimalisasi sumur produksi.
Baca Juga: Magang Procurement Officer di Kimia Farma, Kesempatan Belajar Dunia Pengadaan Barang dan Jasa
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” tutupnya.***