“Kami bermimpi produk ini bisa go global, sesuai dengan slogan kami: 4G – Galo-Galo Go Global,” kata Hery.
Dengan omzet panen hingga Rp56 juta per 1,5 bulan, Madu Galo-Galo Cupiang menjadi contoh nyata bahwa UMKM berbasis alam bisa maju jika dikelola dengan serius dan didukung ekosistem usaha yang tepat.
Baca Juga: Jangan Lewatkan! Tiket DAMRI Mulai Rp9.999 dan Diskon 75% Khusus di KAI Expo 2025
PT Bukit Asam Tbk melalui Rumah BUMN Sawahlunto, melihat potensi ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung UMKM lokal agar bisa tumbuh, mandiri, dan berdaya saing global.
Kisah Madu Galo-Galo Cupiang menunjukkan bahwa dari sebuah kota kecil bersejarah seperti Sawahlunto, produk lokal berkualitas bisa tumbuh besar dan menembus dunia.***
Artikel Terkait
PTBA Tindak Tambang Ilegal di Muara Enim, Sejumlah Barang Bukti Ditemukan
Lewat Bamboo for Life, PTBA Ubah Bambu Jadi Sumber Harapan dan Ekonomi Masyarakat Lampung
Gerakan Baru PTBA: Menanam Harapan Lewat Inisiatif Mangrove Nexus
Dorong Ketahanan Energi dan Transisi Energi, PTBA Andalkan Briket Batu Bara sebagai Solusi Alternatif Ramah Lingkungan
Transformasi PETI di Desa Darmo, Langkah Nyata PTBA Wujudkan Ketahanan Pangan