Dipengaruhi Beberapa Faktor, Laba Bersih BNI Turun 6,97 Persen Sepanjang 2025

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Rabu, 4 Februari 2026 | 20:30 WIB
BNI mencatatkan laba bersih Rp4,9 triliun pada kuartal IV 2025, turun 6% secara tahunan (YoY) dan 2% secara kuartalan (QoQ). (Dok.BNI)
BNI mencatatkan laba bersih Rp4,9 triliun pada kuartal IV 2025, turun 6% secara tahunan (YoY) dan 2% secara kuartalan (QoQ). (Dok.BNI)

BNI juga secara aktif mencermati perkembangan makroekonomi serta menerapkan langkah mitigasi yang terukur untuk memastikan kebijakan strategis berjalan optimal dan mendukung kesinambungan pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga: Talenta Indonesia di Kancah Internasional, Perwira Pertamina Pimpin Operasi Migas Multinasional di Aljazair

Dalam kerangka strategi transformasi digital, BNI terus mengembangkan wondr by BNI sebagai personal transaction platform.

Hingga akhir 2025, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 12 juta pengguna, dengan tingkat keaktifan transaksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan platform sebelumnya.

Selain itu, BNI juga menyempurnakan platform BNIdirect yang mencakup layanan Cash Management, Trade Finance, Bank Guarantee, dan Supply Chain Financing untuk segmen korporasi dan bisnis.

Baca Juga: Mobilitas Warga Medan Meningkat, KA Srilelawangsa Catat 358 Ribu Penumpang dalam Sebulan

Sepanjang 2025, BNIdirect mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% YoY, yang berkontribusi langsung terhadap penguatan dana giro korporasi.

Di sisi internasional, BNI memperkuat perannya sebagai orkestrator bisnis Indonesia ke pasar global melalui jaringan internasional di delapan pusat keuangan dunia.

Serta kemitraan strategis dengan lebih dari 1.300 bank koresponden di 90 negara yang mencakup 16 mata uang.

Baca Juga: 30 Tahun PT DAK: Komitmen Sosial Terus Mengalir untuk Bangka dan Lombok

Provisi Ditingkatkan Meski Kualitas Aset Membaik
Pada kuartal IV 2025, BNI meningkatkan credit cost (CoC) ke level 1,5% dari 1,1% pada kuartal sebelumnya, meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) dan loan at risk (LAR) tercatat menurun secara kuartalan.

Sepanjang 2025, CoC berada di level 1,2%, lebih tinggi dibandingkan 2024 sebesar 1,1% dan di atas target manajemen sekitar 1%.

Manajemen menjelaskan, kebijakan peningkatan provisi didorong oleh sejumlah faktor, antara lain dampak bencana alam di wilayah Sumatra pada akhir 2025, lemahnya pemulihan bisnis ritel, serta tingginya ketidakpastian geopolitik global.

Untuk 2026, BNI menargetkan CoC yang lebih rendah di kisaran 1–1,2% seiring membaiknya prospek ekonomi domestik.

Baca Juga: Dari Krisis ke Presisi: Strategi PHR Menjaga Energi dan Produksi di Blok Rokan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini