Namun modernisasi perlahan mengubah banyak hal. Sosiolog Anthony Giddens dalam bukunya The Consequences of Modernity menggambarkan modernisme seperti kekuatan besar yang sulit dikendalikan dan menyeragamkan kehidupan manusia.
Baca Juga: Bus DAMRI Bandung–Ciledug Hadirkan Perjalanan Nyaman dengan Fasilitas Lengkap
Cara produksi berubah, standar sosial bergeser, dan budaya perlahan menjadi komoditas.
Meski begitu, sebagian tradisi tetap bertahan. Salah satunya dapat ditemukan di Kampung Adat Gebong Memarong, Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka. Hingga kini, masyarakat adat Mapur masih menjaga ritual dan nilai leluhur mereka di tengah perkembangan zaman.
“Semua kami di sini akan terus menjaga alam, menjaga hutan yang hari demi hari mulai terkikis,” ujar Asih, Ketua Lembaga Adat Mapur, saat ritual adat Nujuh Jerami pada 29 April 2026.
Baca Juga: Tebing Karang dan Laut Biru Jadi Andalan Pantai Karang Tawulan di Tasikmalaya
Jejak keberadaan masyarakat adat Mapur sebenarnya telah tercatat sejak 1803 dalam catatan ekspedisi penjelajah Belanda bernama Boogart. Berbagai perubahan besar telah terjadi sejak masa kolonial hingga Indonesia merdeka, tetapi komunitas adat ini tetap bertahan di wilayah tersebut.
“Kalau napas masih ada, kami akan tetap bertahan, saudara!” kata Jojo, salah satu pengikut tradisi Mapur yang dikenal ramah dan gemar bercanda.
Jojo menjelaskan bahwa selain sekitar 100 warga yang tinggal di Dusun Air Abik, masih ada sekitar 150 kerabat mereka yang hidup berpindah-pindah di kawasan Hutan Pejem. Meski menjalani kehidupan nomaden, mereka tetap mengakses pendidikan formal seperti sekolah hingga perguruan tinggi.
Baca Juga: Mahasiswa Jurusan Data Merapat, Bank BUMN Buka Kesempatan Magang Ini
“Mereka juga sekolah seperti kami. Ada juga yang kuliah. Kami sering bertemu kalau ada sesuatu yang ingin ditukar,” ungkap Jojo.
Bagi masyarakat Mapur, budaya bukan sesuatu yang kaku dan berhenti di masa lalu. Tradisi terus berubah mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasarnya. Hal itu pula yang membuat ritual Nujuh Jerami tetap bertahan hingga sekarang.
“Kami sudah menjalankan ritual Nujuh Jerami sejak zaman kakek nenek kami. Bahkan mungkin lebih lama lagi. Bedanya, sejak 2017 setelah mendapat dukungan dari PT TIMAH, semakin banyak orang datang melihat dan bertanya."
"Sekarang lebih ramai karena ada pengeras suara, fotografi, dan pengunjung dari luar yang datang menyaksikan,” katanya.
Artikel Terkait
PT Timah Dukung Pengentasan Kemiskinan Lewat Renovasi Rumah di Belitung
Kisah Habibi Jalani Operasi Hirschsprung, Orang Tua Bersyukur Dapat Dukungan PT TIMAH
PT TIMAH Tanam Ratusan Pohon di Kolong AKHLAK, Dorong Transformasi Lahan Pascatambang Jadi Ruang Publik Hijau
PT TIMAH Bantu Kelompok Rebana AS-Saaddah demi Menjaga Warisan Budaya Lokal
Perundingan Alot Berakhir, PT TIMAH dan Serikat Pekerja Sepakati PKB