Bersama PT TIMAH, Warisan Budaya Mapur di Bangka Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Selasa, 12 Mei 2026 | 08:00 WIB
PT TIMAH mendampingi masyarakat adat Mapur menjaga tradisi dan budaya leluhur melalui Kampung Adat Gebong Memarong di Bangka. (Dok. PT Timah)
PT TIMAH mendampingi masyarakat adat Mapur menjaga tradisi dan budaya leluhur melalui Kampung Adat Gebong Memarong di Bangka. (Dok. PT Timah)

Kabar BUMN - Di tengah derasnya perubahan zaman, masih ada komunitas adat yang memilih hidup berdampingan dengan alam tanpa merusak keseimbangannya.

Bagi masyarakat adat Mapur di Bangka Belitung, alam bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan bagian dari identitas yang harus dijaga bersama.

Melalui berbagai program pelestarian budaya, PT TIMAH turut berjalan bersama masyarakat adat untuk menjaga warisan tradisi agar tetap hidup hingga sekarang.

Baca Juga: 5 Kuliner Khas Melaka, Kota Surga Kuliner yang Sering Terlewatkan di Malaysia

Cara hidup yang mengutamakan kebutuhan secukupnya dan menjaga harmoni dengan alam sebenarnya telah lama dikenal dalam berbagai peradaban tradisional.

Pemikiran serupa pernah dijelaskan ekonom abad ke-20, Karl Polanyi, yang menyebut pola tersebut sebagai sistem sosial ekonomi subsisten.

Kehidupan masyarakat dijalani tanpa berlebihan, karena keseimbangan dengan alam dianggap jauh lebih penting dibanding mengejar kemewahan.

Baca Juga: Lowongan Magang PELNI 2026 untuk Mahasiswa dan Fresh Graduate, Cek Syaratnya

Di Bangka Belitung sendiri, budaya masyarakat tumbuh dari hubungan erat dengan alam. Ada kelompok masyarakat yang hidup di perbukitan, pedalaman, hingga pesisir laut.

Masing-masing memiliki cara bertahan hidup yang berbeda, mulai dari bertani, menangkap ikan, hingga memanfaatkan hasil hutan.

Keragaman itu tercermin dalam ungkapan lama, “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam satu belanga.”

Baca Juga: 3 Shotengai di Tokyo, Lorong Kecil Tempat Warga Lokal Berbelanja

Peribahasa tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat dengan pekerjaan berbeda saling terhubung melalui pertukaran hasil produksi.

Ada yang menghasilkan asam di pegunungan, ada pula yang memproduksi garam di pesisir, lalu semuanya bertemu dalam aktivitas perdagangan yang membentuk kehidupan sosial masyarakat Bangka Belitung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini