Seperti Muslim Fashion Festival (MUFFEST) di Jakarta pada tahun 2023 dan Festival Payung Indonesia di Prambanan pada 2020.
Kini, ia pun tergabung dalam Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI).
Baca Juga: Hidden Gem Pekalongan, Telaga Sigebyar Mangunan Tawarkan Pemandangan Seperti di Luar Negeri
"Alhamdulilah, selain busana, sekarang saya juga sudah memproduksi tas, dompet, dan sepatu."
"Setiap bulannya, rata-rata saya bisa menjual sampai 100 produk, mulai dari kain, pakaian jadi dan produk kerajinan."
"Untuk harga produk bervariasi, berkisar dari Rp250 ribu - Rp1,5 juta," kata Okta.
Okta mengatakan kualitas produk fesyen ecoprint memiliki kualitas yang tidak kalah dengan teknik konvensional.
Bahkan terbilang kuat dan awet karena menggunakan bahan dasar kain berserat alami, dan pewarna dari tanaman, daun, atau bunga.
Saat ini Okta juga membudidayakan beragam tanaman, seperti mahoni, secang, kalpataru, daun lanang, daun truja, hingga kenikir atau cosmos, untuk digunakan dalam proses cetak produk.
“Proses cetak dengan teknik ecoprint tidak menyisakan limbah sehingga ramah lingkungan."
"Dari sisi kualitas, warna yang dihasilkan juga lebih alami dan tidak beracun."
"Ini adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap pelanggan dan lingkungan,” ungkap Okta.
Baca Juga: Explore Keindahan Destinasi Wisata Bali, HIN Menawarkan Paket Spesial JelajaHIN Bali
Selain memastikan produk yang ramah lingkungan, Okta membagikan ilmunya dengan memberikan pelatihan merajut pakaian secara gratis.