Baca Juga: Kolaborasi Stakeholder Bandara Soekarno-Hatta di Masa Angkutan Lebaran Dapat Apresiasi dari Menhub
Sehingga seseorang orang yang memakan ketupat menggambarkan bahwa ia telah bisa mengendalikan keempat nafsu tersebut setelah melaksanakan ibadah puasa.
Sementara lauk pendamping dari santan atau santen menurut filosofi Jawa memiliki makna ‘pangapunten’ atau memohon maaf atas kesalahan.
Dari sajian tersebut kemudian dikenal istilah ‘mangan kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten’ yang artinya ‘makan ketupat pakai santan, bila ada kesalahan mohon dimaafkan’.
Adanya nilai filosofi dalam tradisi ini juga bertujuan agar tidak disalahgunakan untuk sesuatu yang syirik, dan untuk melestarikan syiar Islam yang berciri khas akulturasi budaya.
Artikel Terkait
Sejarah Halal Bihalal yang Menjadi Tradisi Usai Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia
Mengintip 4 Tradisi Unik Masyarakat Minang Saat Perayaan Hari Raya Idul Fitri
Arus Balik Idul Fitri 1445 H, Jasa Marga Imbau Pengguna Jalan Optimalkan Rest Area
Segarkan Tubuh Setelah Lelah Libur Panjang Lebaran di Meiso Reflexology, Ada Diskon Rp 50 Ribu dari BRI