Kabar BUMN - Seperti daerah lain di Indonesia, masyarakat Bengkulu juga memiliki berbagai tradisi unik untuk memeriahkan momen lebaran. Bahkan, tradisi ini sudah ada sejak berabad-abad silam. Berikut tradisi menyambut lebaran di Bengkulu yang kaya makna.
Saat membicarakan tradisi umat Islam di Bengkulu, kebanyakan orang pasti hanya mengenal Upacara Tabot, atau peringatan kematian cucu Nabi Muhammad SAW. Ternyata, masih banyak tradisi Islami lainnya yang tak kalah unik. Khususnya tradisi menyambut lebaran di Bengkulu yang meriah.
Sekadar informasi, Bengkulu dikenal dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Karena kota ini sudah mengenal Islam sejak abad ke-15 M melalui penyiar Islam dari Pulau Jawa. Oleh sebab itu, Hari Raya Idulfitri selalu disambut secara suka cita oleh masyarakat Bengkulu.
Tidak heran akan ada banyak tradisi menyambut lebaran di Bengkulu yang sarat akan makna dan filosofinya. Berikut beberapa di antaranya:
Takbiran Tabuh Dol
Malam takbiran terasa meriah di Bengkulu. Berbeda dengan takbiran pada umumnya, masyarakat Suku Lembak, Bengkulu masih memertahankan tradisi tabuh dol sebagai pengiring takbir menjelang Idulfitri.
Tabuh dol adalah alat musik tradisional khas Bengkulu yang bentuknya seperti bedug. Untuk memainkan alat ini, para pemain harus menabuh dol secara bersamaan dengan irama tertentu sambil mengiring takbir. Hal ini pun membuat suasana malam takbiran di Bengkulu menjadi sangat meriah.
Bakar Gunung
Tradisi lebaran menyambut lebaran di Bengkulu selanjutnya adalah Bakar Gunung, atau yang sering disebut ronjok sayak. Kata sayak berarti batok kelapa. Oleh masyarakat Suku Serawai Bengkulu, tradisi Bakar Gunung diartikan membakar batok kelapa kering yang tingginya lebih dari satu meter; mirip seperti gunungan.
Tradisi Bakar Gunung biasanya dilakukan pada malam Idulfitri di setiap rumah warga. Tujuannya sebagai bentuk suka cita menyambut hari kemenangan. Selain itu, susunan batok kelapa juga menyimbolkan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mendoakan para leluhur yang sudah meninggal.
Ngidak Gelamai
Tradisi menyambut lebaran di Bengkulu berikutnya adalah Ngidak Gelamai. Tradisi ini dilakukan oleh Suku Serawai yang ada di Kabupaten Seluma. Gelamai sendiri adalah dodol manis khas Bengkulu yang terbuat dari tepung beras ketan, garam, santan, dan gula merah. Proses pembuatan gelamai membutuhkan waktu 8 jam dengan cara diaduk terus-menerus.
Untuk membuat adonan matang sempurna, diperlukan solidaritas dan gotong royong bersama. Proses inilah yang disebut Ngidak Gelamai oleh masyarakat Bengkulu. Selain mensyukuri lebaran Idulfitri, tradisi ini juga memiliki arti syukur atas melimpahnya panen ketan.
Cencang Kertok