Buya Hamka merupakan salah seorang sastrawan, budayawan, dan ulama terpandang di Indonesia. Beberapa karya beliau antara lain, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Merantau ke Deli, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebesaran nama beliau dikenang dalam film nasional dengan judul Buya Hamka yang saat ini masih tayang di bioskop di seluruh Indonesia.
Buya Hamka atau Abdul Malik Karim Amrullah lahir di Agam 17 Februari 1908. Rumah tempat kelahiran beliau saat ini menjadi cagar budaya dan museum di daerah Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Buya Hamka tinggal di rumah ini sejak lahir sampai dia pindah ke Padang Panjang.
Baca Juga: JPO Instagramable di Jakarta, Spot yang Cocok untuk Swafoto
Rumah Milik Nenek Buya Hamka
Museum Kelahiran Buya Hamka sangat mudah ditemukan karena jadi salah satu tujuan wisata di Sumatra Barat. Letaknya pun di tepian Danau Maninjau.
Untuk mencapai lokasi ini, Anda bisa datang dari Bukit Tinggi dan melewati kawasan Kelok 44 atau Kelok Ampek Puluk ampek. Setelah melewati kelok tersebut akan bertemu dengan persimpangan. Museum berada di arah jalur sebelah kiri. Jarak dari persimpangan menuju museum sekitar tujuh kilometer dengan jalur yang berbelok-belok.
Lokasi Bangunan museum lebih tinggi lima meter dari jalan raya. Dari luar terpampang tulisan besar Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Bangunan museum berbentuk Rumah Gadang dengan atap bagonjong (atap meruncing) dan model panggung di mana ada bagian kosong di bawah bangunan.
Baca Juga: Resep Gudeg Jogja Daun Jati, Sajian Nikmat dari Kota Istimewa
Rumah ini awalnya milik nenek Buya Hamka. Pada masa pendudukan Jepang nyaris dihancurkan. Setelah sekian lama terabaikan, tahun 2000 muncul gagasan Gubernur Sumatra Barat saat itu, Zainal Bakar untuk membangun kembali rumah ini dengan mempertahankan bentuk aslinya.
Setelah mengalami renovasi selama setahun, rumah ini pun beralih fungsi menjadi museum. Peresmiannya dilakukan Gubernur Zainal Bakar pada 11 November 2001.
Terdapat 200 koleksi buku
Saat berkunjung ke dalam museum, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki demi menjaga kebersihan museum. Begitu masuk pengunjung langsung berada di ruang tamu. Di sini dipajang foto-foto Hamka sejak kecil, remaja, sampai dengan meninggal. Ada pula foto ribuan manusia yang mengantar jenazah Hamka saat meninggal tahun 1981.
Baca Juga: Viral Kisah Dua Sahabat Bertemu Setelah 30 Tahun Berpisah dan Lost Contact
Di sebelah ruang tamu ada lima rak buku yang menyimpan sekitar 200 koleksi buku. Sayang saja dari sekian banyak kolesi buku tersebut hanya ada 28 judul buku karya Hamka.
Di sebelah ruang tamu ada kamar tidur yang berisikan tempat tidur berhiaskan kelambu putih, lemari kaca yang berisi pakaian kebesaran beliau, dan etalase penyimpanan baju serta syal milik Buya Hamka. Kamar tidur ini dulunya ditempati orang tua Hamka, H. Abdul Karim dan istrinya.
Di dekat kamar tidur ada ruang khusus yang menyimpan kursi-kursi peninggalan orang tua Hamka, lampu gantung kuno. Ada pula satu koper yang digunakan Hamka saat pertama naik haji, delapan tongkat, baju wisuda dan toga saat Hamka dikukuhkan menjadi Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Mesir.
Artikel Terkait
Rekrutmen Bersama BUMN Dibuka Mei 2023, Catat Jadwalnya!
WhatsApp Memperkenalkan Fitur Baru, Satu Akun Bisa Menautkan 5 Perangkat Sekaligus
Resep Fuyunghai Ayam yang Enak dan Praktis Ala Chinese Resto
Apa Tugas KAI Services Facility Care? Kenali Tugas dan Fungsi KAI Service Untuk Dapatkan Layanan yang Nyaman
Tips Ampuh saat Wawancara Kerja di BUMN ala Erick Thohir, Bisa Bikin Kamu Lebih Unggul Dibanding Pelamar Lain