Masjid Pecinan Tinggi didirikan Syarif Hidayatullah tahun 1552, dilanjutkan Maulana Hasanudin.
Masjid ini berdiri lebih dulu dibandingkan Masjid Agung Banten yang berdiri pada tahun 1566.
Baca Juga: Sempat Sepi Pengunjung, Pantai Karang Bokor di Lebak Banten Perlahan Mulai Kembali Dilirik Wisatawan
Terbuat dari batu bata
Masjid Pecinan Tinggi terbuat dari tumpukan batu bata dan batu karang.
Dalam pembangunannya, tumpukan itu menggunakan perekat kapur sehingga berdiri dengan kokoh.
Sayangnya, sejumlah bencana alam membuat Masjid Pecinan Tinggi lama-lama tergerus.
Salah satu kerusakan besar terjadi ketika Gunung Api Krakatau meletus pada tanggal 20 Mei 1883.
Akibat bencana alam ini seluruh bangunan di kawasan Banten mengalami kerusakan parah.
Karena itu juga Masjid Pecinan Tinggi tidak utuh lagi.
Sisanya tinggal struktur pondasi yang menyatu dengan lantai, ruang mihrab, tempat imam, dan menara masjid.
Beberapa atap menara pun sudah hilang. Pondasi lantai sudah terkelupas.
Baca Juga: Pulau Peucang, Kepingan Surga di Pandeglang Banten yang Sajikan Banyak Wisata Alam Pemikat Wisatawan
Meskipun tidak utuh, Masjid Pecinan Tinggi ini terus dirawat, bahkan masuk cagar budaya yang dilindungi.
Artikel Terkait
4 Masjid Tertua di Indonesia, Bukti Abad Penyebaran Agama Islam dan Kehadiran Wali Songo
Jelajah Perjalanan Islam di Wilayah Nusantara dan Dunia di Indonesia Islam Art Museum
Daftar Destinasi Wisata Religi di Demak: Jejak Spiritual dan Sejarah Islam
Perkaya Pengetahuan Sejarah Agama, Ini Rekomendasi Museum Islam di Indonesia
Jelajah Kota yang Dipercaya Menjadi Pusat Perkembangan Pertama Peradaban Islam di Nusantara, Bukan Aceh