Warna-warni Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Daerah Indonesia, Dari Grebeg Syawal hingga Tumbilotohe

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Sabtu, 5 April 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi - Grebeg Syawal. Tradisi unik Lebaran dari berbagai daerah Indonesia, mulai dari Grebeg Syawal hingga Tumbilotohe yang sarat makna budaya dan kebersamaan. (gudeg.net)
Ilustrasi - Grebeg Syawal. Tradisi unik Lebaran dari berbagai daerah Indonesia, mulai dari Grebeg Syawal hingga Tumbilotohe yang sarat makna budaya dan kebersamaan. (gudeg.net)

Perang Topat: Simbol Toleransi dari Lombok

Meskipun disebut perang, Perang Topat di Lombok bukanlah ajang permusuhan. Enam hari setelah Lebaran, warga dari Suku Sasak dan Bali berkumpul di Pura Lingsar untuk saling melempar ketupat.

“Tradisi ini justru melambangkan rasa syukur, serta kerukunan umat beragama di Lombok.” Prosesi ini dimulai dengan arak-arakan hasil bumi dan diakhiri dengan lemparan ketupat yang penuh suka cita.

Baca Juga: Jadwal, Rute, dan Tarif DAMRI ke Bandara Soekarno-Hatta di Periode Arus Balik Lebaran 2025, Cek Sekarang!

Binarundak: Hangatnya Silaturahmi dengan Nasi Jaha

Lebaran di Motoboi Besar, Sulawesi Utara, identik dengan Binarundak atau tradisi memasak nasi jaha bersama-sama.

Masyarakat akan berkumpul tiga hari setelah Idul Fitri dan memasak nasi jaha yang dibungkus daun pisang dalam bambu, dibakar menggunakan sabut kelapa.

Baca Juga: Museum Kereta Api Ambarawa Hadirkan Eduwisata Seru dan Interaktif untuk Anak, Harga Tiketnya Beragam

Setelah matang, nasi disantap bersama sebagai wujud rasa syukur. Tradisi ini mempererat hubungan antarwarga dan menguatkan nilai kebersamaan.

Tumbilotohe: Gemerlap Lampu Penanda Akhir Ramadan

Di Gorontalo, Tumbilotohe atau “malam pasang lampu” menjadi tradisi yang dinanti. Lampu-lampu minyak tanah atau Tohetutu dipasang sejak maghrib hingga subuh pada tiga malam terakhir sebelum Idul Fitri.

Baca Juga: DAMRI Catat Penjualan 60 Ribu Tiket AKAP Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2025

“Pemasangan lampu dimulai sejak maghrib hingga menjelang subuh.” Lampu-lampu ini tak hanya menerangi, tapi juga disusun dalam bentuk masjid, kaligrafi, hingga Al-Quran.

Pada 2007, Tumbilotohe mencatatkan rekor nasional dengan lima juta lampu yang menghiasi Gorontalo.

***

 

Add as a preferred source on Google
Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler